Jawa Pos Radar Lawu - Puncak peringatan Dies Natalis ke-51 Universitas PGRI Madiun berlangsung penuh makna dengan penegasan arah transformasi kampus menuju institusi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi bangsa.
Momentum usia ke-51 ini menjadi refleksi sekaligus titik tolak bagi UNIPMA untuk memperkuat komitmen sebagai perguruan tinggi yang adaptif di tengah perubahan zaman dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Mengusung tema “Unggul dalam Karya, Berdampak untuk Bangsa”, UNIPMA menegaskan strategi transformasi melalui penguatan ekosistem pendidikan, riset berkualitas, inovasi tepat guna, serta kolaborasi lintas sektor.
Orasi Ilmiah Wamendiktisaintek: Kampus Harus Jadi Problem Solver
Puncak acara semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan yang menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sivitas akademika.
Dalam pidatonya, Prof Fauzan menegaskan bahwa usia 51 tahun merupakan bukti ketangguhan sebuah institusi dalam menghadapi dinamika zaman.
“Dies Natalis bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum introspeksi dan refleksi untuk mempercepat pencapaian strategi,” tegasnya.
Ia mengibaratkan perjalanan UNIPMA sebagai proses metamorfosis yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja keras sebelum mencapai lompatan besar.
Lebih jauh, Prof Fauzan menekankan bahwa perguruan tinggi modern tidak cukup hanya menghasilkan lulusan berkualitas.
Kampus harus mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan masyarakat.
“Kampus harus melahirkan inovasi solutif dan berdampak melalui kolaborasi dengan dunia usaha, industri, pemerintah, hingga komunitas,” imbuhnya.
Komitmen Rektor: Perkuat SDM dan Tata Kelola
Menanggapi arahan tersebut, Rektor UNIPMA Dr. Supri Wahyudi Utomo menegaskan komitmen institusi untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tata kelola, dan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
“UNIPMA akan terus berupaya melakukan lompatan signifikan agar menjadi kampus yang benar-benar berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan perjalanan historis UNIPMA yang dimulai pada tahun 1975 saat masih bernama IKIP PGRI Jawa Timur di Madiun, dengan hanya tiga program studi dan 26 mahasiswa.
Kini, UNIPMA telah berkembang pesat menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di wilayah Mataraman, dengan empat gedung kampus dan 30 program studi.
Prestasi Akademik dan Target Akreditasi Unggul 2027
Salah satu capaian strategis yang membanggakan adalah keberhasilan 12 program studi meraih akreditasi Unggul.
Capaian ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan target besar Akreditasi Institusi Unggul pada tahun 2027.
Selain itu, UNIPMA juga terus meningkatkan kualitas tenaga pengajar melalui penambahan dosen bergelar doktor, peningkatan jabatan akademik, serta pengembangan guru besar.
Saat ini, kampus telah memiliki empat guru besar dan tengah mempersiapkan pembukaan Program Doktor (S3) Pendidikan.
Harapan Pimpinan: Kampus sebagai Ruang Tumbuh dan Prestasi
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi, Prof. Dr. Marheny Lukitasari menilai usia ke-51 menjadi bukti dedikasi panjang dalam memajukan pendidikan.
Ia berharap UNIPMA terus menjadi ruang tumbuh yang kondusif bagi generasi pencari ilmu.
Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Dr. Elva Nuraina menekankan pentingnya penguatan tata kelola keuangan yang akuntabel dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. Jeffry Handhika menyoroti pentingnya peningkatan prestasi mahasiswa, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kerja sama strategis akan berdampak langsung pada kualitas dan daya saing lulusan,” ujarnya.
Menuju Kampus Berdampak
Dengan semangat Dies Natalis ke-51, UNIPMA menegaskan langkah transformasi menuju kampus berdampak tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga relevan dan solutif bagi kebutuhan masyarakat.
Komitmen ini menjadi sinyal kuat bahwa perguruan tinggi tidak lagi sekadar pusat pendidikan, melainkan motor penggerak perubahan sosial dan pembangunan bangsa.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani