Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Menhub Tunggu Hasil KNKT, Pemerintah Siapkan Flyover dan Tutup 172 Perlintasan

Mizan Ahsani • Jumat, 22 Mei 2026 | 12:12 WIB
Kondisi taksi daring pasca kecelakan di jalur kereta sekitar Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi
Kondisi taksi daring pasca kecelakan di jalur kereta sekitar Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Jawa Pos Radar Lawu - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait kecelakaan kereta api di Bekasi Timur yang terjadi pada 27 April 2026 lalu.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mendahului hasil investigasi yang saat ini masih berlangsung.

“Kemenhub tidak akan mendahului hasil investigasi KNKT yang tentu berdasarkan fakta dan data.

Sambil menunggu, langkah evaluasi dan penguatan keselamatan tetap berjalan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).

Fokus Evaluasi Keselamatan Perkeretaapian

Kemenhub memastikan bahwa upaya peningkatan keselamatan terus dilakukan secara menyeluruh.

Evaluasi mencakup berbagai aspek penting, mulai dari sarana dan prasarana hingga kualitas sumber daya manusia.

Langkah ini meliputi:

Selain itu, koordinasi lintas sektor juga diperkuat guna meminimalkan potensi kecelakaan serupa di masa mendatang.

Baca Juga: Kecelakaan KA Dhoho di Blitar: Truk Mogok di Rel Tertemper Kereta, Ini Kronologi Lengkapnya

Tren Kecelakaan Menurun, Tapi Masih Jadi Sorotan

Meski kasus kecelakaan di pelintasan sebidang masih terjadi, Kemenhub mencatat adanya tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.

Penurunan ini menunjukkan bahwa langkah perbaikan mulai memberikan dampak, meski belum sepenuhnya optimal.

Pemerintah Siapkan Flyover di Bekasi

Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah telah menyetujui pembangunan flyover di wilayah Bekasi.

Kebijakan ini juga mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Pembangunan flyover dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan, mengingat tingginya kepadatan lalu lintas serta peran vital transportasi kereta api dalam mobilitas masyarakat.

Pemerintah juga menyiapkan anggaran sekitar Rp 4 triliun guna mendukung peningkatan keselamatan dan pembangunan infrastruktur perlintasan.

172 Perlintasan Akan Ditutup

Sebagai langkah konkret, Kemenhub bersama sejumlah pemangku kepentingan seperti PT KAI, DJKA, dan KNKT telah memulai program penanganan pelintasan sebidang sejak 5 Mei 2026.

Hasilnya, sebanyak 172 pelintasan sebidang berisiko tinggi direkomendasikan untuk ditutup, terutama yang memiliki lebar jalan kurang dari 2 meter.

Sementara itu, 1.638 lokasi lainnya menjadi prioritas peningkatan keselamatan dengan total investasi mencapai Rp 842,48 miliar.

Rinciannya meliputi:

Saat ini, terdapat 3.674 pelintasan sebidang di Indonesia, yang terdiri dari 2.771 pelintasan terdaftar dan 903 tidak terdaftar.

Baca Juga: Gempa M 5,9 Guncang Manado, BMKG: Dipicu Aktivitas Lempeng Laut Maluku

Keselamatan Jadi Prioritas Utama

Menutup pernyataannya, Dudy menegaskan bahwa tidak ada kompromi dalam aspek keselamatan transportasi.

Setiap insiden harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh.

“Tidak ada kompromi untuk keselamatan transportasi. Setiap kejadian harus menjadi pelajaran dan ditindaklanjuti dengan perbaikan sistem,” tegasnya.(*)

*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) #Flyover di Bekas #evaluasi #kecelakaan #kemenhub