Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Harga TBS Sawit Turun di Sumatra Akhir Mei 2026, Dipicu Anjloknya Harga CPO Global

Mizan Ahsani • Kamis, 21 Mei 2026 | 21:42 WIB
Ilustrasi TBS Kelapa sawit di Sumatera Barat.
Ilustrasi TBS Kelapa sawit di Sumatera Barat.

Jawa Pos Radar Lawu - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah wilayah Sumatra kompak mengalami penurunan pada akhir Mei 2026. Pelemahan ini terutama dipicu oleh turunnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global.

Penurunan harga terjadi pada TBS kemitraan plasma di Provinsi Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. Sementara itu, kondisi berbeda justru dialami petani swadaya di beberapa daerah yang mencatatkan kenaikan harga secara terbatas.

Harga TBS Sawit Riau Turun, Tertekan Harga CPO

Di Provinsi Riau, harga pembelian TBS petani plasma periode 20–26 Mei 2026 turun sebesar Rp33,56 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun. Dengan penurunan tersebut, harga TBS menjadi Rp3.866,90 per kilogram.

Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, menjelaskan bahwa penurunan ini tidak lepas dari melemahnya harga CPO dan kernel di pasar.

“Pada periode ini harga penjualan CPO turun sebesar Rp343,18 dan kernel turun Rp308,72 dari minggu sebelumnya,” ujarnya.

Selain faktor harga global, fluktuasi ini juga dipengaruhi oleh tidak adanya transaksi penjualan di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS). Sesuai regulasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024, acuan harga menggunakan rata-rata CPO KPBN sebesar Rp15.191,67 per kilogram dan kernel Rp14.828,00 per kilogram.

Baca Juga: Jakarta Masih Ibu Kota RI, Bagaimana Nasib Proyek IKN? Ini Penjelasan Terbaru MK dan Otorita Nusantara

Petani Swadaya Justru Alami Kenaikan Tipis

Berbeda dengan petani plasma, harga TBS petani swadaya di Riau justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,64 persen menjadi Rp3.857,14 per kilogram.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Vera Virgianti, menyebut kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga kernel, meskipun harga CPO mengalami penurunan.

“Harga kernel mengalami kenaikan, sehingga ikut mendorong harga TBS swadaya,” jelasnya.

Data menunjukkan harga CPO mengalami penurunan sebesar Rp29,63 per kilogram, sementara harga kernel naik Rp4 per kilogram pada periode yang sama.

Sumbar dan Sumsel Ikut Terkoreksi

Penurunan harga juga terjadi di Sumatra Barat dan Sumatra Selatan.

Di Sumatra Barat, harga TBS untuk tanaman umur 10–20 tahun turun Rp23,4 per kilogram menjadi Rp3.998,76 per kilogram pada periode 15–21 Mei 2026.

Sementara di Sumatra Selatan, harga TBS usia produktif turun dari Rp3.898 menjadi Rp3.864 per kilogram pada periode II Mei 2026.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Sumatra Selatan, M Ichwansyah, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh kondisi pasar global.

“Harga acuan CPO di pasar global seperti Bursa Malaysia dan Rotterdam saat ini sedang turun,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa permintaan dari pasar internasional, terutama Uni Eropa dan Tiongkok, mengalami penurunan.

Beberapa negara importir mulai beralih ke minyak nabati alternatif seperti minyak kedelai yang lebih murah.

Baca Juga: Prabowo Gagas Tanam Sawit dan Singkong di Papua untuk Capai Ketahanan Energi Nasional

Faktor Global dan Logistik Tekan Harga Sawit

Selain faktor permintaan global, kendala logistik juga turut memengaruhi harga.

Penumpukan muatan di tangki pelabuhan ekspor menyebabkan distribusi terhambat, sehingga menahan kenaikan harga di dalam negeri.

Meski harga TBS turun, pemerintah daerah memastikan bahwa kesejahteraan petani tetap terjaga melalui peningkatan indeks K, yang menentukan bagian harga yang diterima petani.

“Walaupun harga TBS turun, bagian yang diterima petani cenderung meningkat,” jelas Ichwansyah.

Sumatra Utara Catat Tren Berbeda

Sementara itu, Sumatra Utara mencatat tren berbeda. Harga TBS swadaya justru mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.

Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar Rp3.410 per kilogram, disusul Kabupaten Padang Lawas Rp3.380 per kilogram.

Sedangkan harga terendah berada di Kabupaten Padang Lawas Utara sebesar Rp3.005 per kilogram.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa dinamika harga sawit di tingkat daerah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari harga global, komoditas turunan, hingga kondisi distribusi lokal.

Baca Juga: Beasiswa World in Serbia 2026 Resmi Dibuka, Kuliah Gratis S1–S3

Dengan kondisi ini, pelaku industri dan petani sawit diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi pasar global yang masih berpotensi memengaruhi harga dalam waktu dekat.(*)

*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
Sumber : Radar Madiun
Harga TBS Sawit Korporasi Petani Komoditas Perkebunan kelapa sawit