Jawa Pos Radar Lawu - Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan intensitas tinggi selama periode pengamatan 1–7 Mei 2026.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadi awan panas guguran, ratusan guguran lava, hingga aktivitas kegempaan vulkanik dalam jumlah besar.
Kondisi ini menandakan erupsi efusif Gunung Merapi masih berlangsung dan berpotensi memicu bahaya guguran lava serta awan panas di sejumlah wilayah rawan bencana.
Baca Juga: Update Gunung Dukono Meletus 8 Mei 2026: 3 Orang Meninggal, 5 Pendaki Luka, Status Masih Waspada
Awan Panas Guguran dan Ratusan Lava Pijar
Selama sepekan, Gunung Merapi terpantau mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal.
Tinggi kolom asap berkisar antara 10 meter hingga 400 meter dari puncak.
Secara visual, kondisi puncak relatif cerah pada pagi dan malam hari. Namun, kabut sering menyelimuti kawasan gunung pada siang hingga sore, sehingga pengamatan dilakukan lebih intensif melalui kamera pemantau.
BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 1.800 meter ke arah hulu Kali Sat/Putih. Selain itu, aktivitas guguran lava masih mendominasi dinamika erupsi.
Tercatat satu kali guguran lava ke arah Kali Boyong sejauh 2.000 meter.
Aktivitas paling intens terjadi di Kali Krasak dengan 101 kali guguran lava.
Sementara itu, guguran juga terjadi sebanyak 13 kali ke Kali Bebeng dan 53 kali ke Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Aktivitas ini menunjukkan material lava di kubah Merapi masih sangat aktif dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Perubahan Kubah Lava Gunung Merapi
BPPTKG mengungkapkan adanya perubahan morfologi pada kubah lava sektor barat daya Gunung Merapi akibat aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Hasil analisis visual dari kamera pengamatan menunjukkan kubah barat daya mengalami perubahan bentuk, sementara kubah tengah relatif stabil.
Berdasarkan data foto udara per 16 April 2026, volume kubah barat daya mencapai 4.037.600 meter kubik. Sedangkan kubah tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Volume material yang besar ini menjadi perhatian serius karena berpotensi runtuh dan memicu awan panas guguran ke sungai-sungai berhulu di Merapi.
Aktivitas Gempa Vulkanik Masih Tinggi
Selain aktivitas visual, BPPTKG juga mencatat tingginya aktivitas kegempaan Gunung Merapi. Dalam periode tersebut, tercatat:
- 1 gempa awan panas guguran
- 24 gempa vulkanik dangkal
- 465 gempa fase banyak
- 940 gempa guguran
- 1 gempa low frequency
- 21 gempa tektonik
Meskipun jumlah ini lebih rendah dibanding pekan sebelumnya, data tersebut menunjukkan aktivitas magma di dalam tubuh gunung masih aktif.
Gempa vulkanik dangkal dan fase banyak menjadi indikator adanya pergerakan magma menuju permukaan.
Baca Juga: Diduga Rem Blong, Hiace Wisatawan Singapura Alami Kecelakaan Beruntun di Jalur Bromo Probolinggo
Deformasi Belum Signifikan
Hasil pemantauan deformasi menggunakan alat Electronic Distance Measurement (EDM) dan GPS belum menunjukkan perubahan signifikan.
Pengukuran EDM di sektor barat laut berada pada kisaran 3.840,130 hingga 3.840,138 meter.
Sementara baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat sekitar 7.108,13 meter.
Hal ini menandakan belum terjadi penggembungan tubuh gunung secara signifikan, meski suplai magma masih berlangsung.
Waspada Lahar Saat Hujan
Hujan juga tercatat mengguyur kawasan lereng Merapi dalam sepekan terakhir.
Intensitas tertinggi terjadi pada 3 Mei 2026 di Pos Kaliurang dengan curah hujan mencapai 17,69 mm per jam selama 177 menit.
Meski belum ada laporan lahar, masyarakat diminta tetap waspada. Material vulkanik di lereng gunung berpotensi terbawa air hujan dan memicu banjir lahar di sungai.
Status Gunung Merapi Masih Siaga
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Potensi bahaya meliputi:
- Sektor selatan dan barat daya: Sungai Boyong hingga 5 km, serta Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km
- Sektor tenggara: Sungai Woro hingga 3 km dan Gendol hingga 5 km
- Lontaran material eksplosif: radius 3 km dari puncak
Baca Juga: Apakah Hantavirus Bisa Jadi Pandemi Seperti Covid-19? Ini Penjelasan WHO dan Fakta Terbarunya
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, serta abu vulkanik.
Pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten juga diminta memperkuat langkah mitigasi, termasuk kesiapan evakuasi.
BPPTKG memastikan akan terus memantau aktivitas Gunung Merapi secara intensif dan akan melakukan evaluasi status jika terjadi peningkatan signifikan.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani