Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

IHSG Anjlok Pagi Ini, Investor Diminta Wait and See Imbas Konflik AS-Iran

Nur Wachid • Senin, 30 Maret 2026 | 15:25 WIB
Pergerakan IHSG melemah di tengah tekanan global akibat konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia. (ANTARA)
Pergerakan IHSG melemah di tengah tekanan global akibat konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Lawu – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG hari ini) dibuka melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026), mengikuti tekanan bursa saham Asia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar saham global.

IHSG turun 76,53 poin atau 1,08 persen ke level 7.020,53. Sementara indeks LQ45 juga terkoreksi 11 poin atau 1,53 persen ke posisi 707,96.

Investor Diminta Tahan Diri

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan investor untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Baca Juga: Ancaman Krisis BBM, Begini Upaya Pemerintah Perkuat Pengamanan Kapal RI di Selat Hormuz

“Investor sebaiknya lebih banyak menahan diri, wait and see menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS dan inflasi Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu langkah pemerintah terkait mitigasi risiko krisis BBM yang diperkirakan diumumkan dalam waktu dekat.

Sentimen Global Masih Negatif

Menurut Liza, pasar saat ini bergerak sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Meski sempat ada penundaan serangan oleh Presiden AS Donald Trump, risiko eskalasi konflik masih tinggi.

Situasi diperparah dengan potensi tambahan pengerahan 10.000 pasukan AS, serta belum adanya kesepakatan damai yang konkret.

Baca Juga: Waspada Krisis BBM, Purbaya: Kalau Suplai Berhenti, Itu yang Saya Takut!

Pakistan disebut mencoba menjadi mediator dengan proposal perdamaian, sementara Iran hanya memberikan sinyal terbatas seperti membuka sebagian akses pelayaran di Selat Hormuz.

Harga Minyak Tembus 100 Dolar

Gangguan pasokan global membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Brent dan WTI tercatat bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Penutupan sebagian Selat Hormuz yang selama ini menyalurkan 15–20 juta barel per hari menjadi faktor utama lonjakan harga.

Baca Juga: Antrean Kendaraan Membludak di SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM, Konsumsi Energi Diprediksi Melonjak

Dalam skenario ekstrem, UBS memproyeksikan harga minyak bisa menembus 150 dolar AS per barel, yang berpotensi memicu inflasi global di atas 4 persen dan mendorong resesi di sejumlah negara maju.

Hampir Tak Ada Aset Aman

Kondisi pasar saat ini dinilai tidak memberikan ruang aman bagi investor. Bahkan aset safe haven seperti obligasi AS, yen Jepang, dan emas dinilai tidak mampu memberikan perlindungan optimal.

“Investor cenderung mengurangi eksposur risiko secara agresif karena hampir tidak ada aset yang benar-benar aman,” jelas Liza.

Baca Juga: Viral Transformasi Pria Setelah Pacaran, Dari Penampilan Biasa Jadi Rapi dan Stylish

Dampak ke Ketahanan Energi Indonesia

Di dalam negeri, ketegangan geopolitik juga berdampak pada sektor energi. Dua kapal tanker Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, sempat tertahan di Selat Hormuz sebelum akhirnya mendapat izin keluar dari Iran.

Namun, kapasitas kedua kapal tersebut hanya setara sekitar 1–1,5 hari kebutuhan BBM nasional, sehingga belum mampu mengurangi risiko gangguan pasokan jika konflik berlarut.

Bursa Global Kompak Melemah

Pada perdagangan sebelumnya, bursa Eropa dan Amerika Serikat juga ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun 1,73 persen, S&P 500 melemah 1,67 persen, dan Nasdaq terkoreksi 1,93 persen.

Sementara di Asia, indeks Nikkei anjlok 4,53 persen, Hang Seng turun 1,71 persen, dan Shanghai melemah 0,80 persen.

Editor : Nur Wachid
#IHSG hari ini #IHSG turun #konflik AS Iran #pasar saham global #harga minyak dunia