Jawa Pos Radar Lawu - Kemacetan parah terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, saat arus mudik Lebaran 2026.
Antrean kendaraan bahkan mengular hingga 20 kilometer dan membuat ribuan pemudik terjebak belasan jam di jalan.
Kondisi ini menjadi salah satu kemacetan terburuk dalam beberapa tahun terakhir, dengan kepadatan kendaraan yang terus meningkat sejak pertengahan Maret 2026.
Antrean Mengular hingga 20 Kilometer
Kemacetan panjang terpantau hingga wilayah Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
Sebelumnya, antrean bahkan sempat mencapai wilayah Kecamatan Negara pada dini hari.
Arus kendaraan didominasi mobil pribadi, sementara jalur khusus sepeda motor relatif lebih lengang.
Namun, kepadatan tetap terjadi di jalur utama menuju Terminal Kargo Gilimanuk dan jalan-jalan permukiman warga.
Fenomena ini menunjukkan lonjakan arus mudik yang datang lebih awal dari perkiraan.
Baca Juga: Mudik Gratis Suara Muslim 2026 Berangkat dari Surabaya, Ini Jadwal, Rute, dan Cara Daftarnya
Pemudik Terjebak Hingga Belasan Jam
Sejumlah pemudik mengaku harus menghabiskan waktu sangat lama hanya untuk mencapai pelabuhan.
Seorang sopir travel bernama Ipung (50) mengaku berangkat pukul 00.00 WITA dan baru tiba di Terminal Kargo Gilimanuk pada pukul 17.00 WITA.
“Ini paling parah dibanding tahun sebelumnya. Biasanya macet hanya sampai Hutan Cekik, sekitar 5 sampai 7 kilometer,” ujarnya.
Hal serupa dialami Dewi (56), yang berangkat sejak pukul 09.00 WITA, namun baru bisa masuk kawasan pelabuhan pada dini hari.
“Dari pagi sampai subuh baru masuk pelabuhan. Macetnya parah sekali,” katanya.
Bahkan, beberapa pemudik memilih turun di tengah antrean dan menggunakan jasa ojek dadakan demi mengejar jadwal penyeberangan.
Penyebab Kemacetan: Volume Kendaraan hingga Aksi Serobot Jalur
Kemacetan panjang ini dipicu oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
-
Lonjakan volume kendaraan pemudik
-
Banyaknya truk logistik yang masih melintas
-
Aksi “ngeblong” atau menyerobot antrean oleh pengendara
-
Kondisi infrastruktur jalan Denpasar–Gilimanuk yang dinilai tidak memadai
Aksi saling serobot ini bahkan memperparah kemacetan karena memicu benturan arus dari arah berlawanan dan mengunci pergerakan kendaraan.
Baca Juga: Sering Terjebak Macet Saat Liburan? Simak 10 Tips Perjalanan Lebih Lancar dan Nyaman
Data Penyeberangan dan Lonjakan Kendaraan
Berdasarkan data Posko Gilimanuk pada H-7 Lebaran (14–16 Maret 2026):
-
Total penumpang: 54.652 orang (naik 8,1%)
-
Kendaraan roda dua: 10.733 unit (naik 37,5%)
-
Kendaraan roda empat: 4.610 unit (naik 0,7%)
-
Total kendaraan: 17.832 unit (naik 19,1%)
Sementara itu, total penumpang dari H-10 hingga H-7 mencapai 152.224 orang.
Lonjakan kendaraan ini memperlihatkan tingginya mobilitas masyarakat meskipun secara total penumpang terjadi sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Polisi Lakukan Rekayasa Lalu Lintas
Untuk mengurai kemacetan, pihak kepolisian bersama instansi terkait melakukan berbagai langkah, antara lain:
-
Penerapan delay system untuk truk besar
-
Penyekatan kendaraan sumbu tiga ke atas
-
Kanalisasi jalur kendaraan kecil ke area kargo
-
Penindakan tegas terhadap pengendara yang menyerobot antrean
Petugas juga aktif melakukan patroli di sepanjang antrean untuk memastikan tidak ada celah yang dimanfaatkan pengendara tidak tertib.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tertib dan mengikuti arahan petugas.
Jangan menyerobot karena justru memperparah kemacetan,” ujar pihak kepolisian.
Infrastruktur Jadi Sorotan
Gubernur Bali, Wayan Koster, menilai kemacetan ini tidak hanya disebabkan oleh lonjakan kendaraan, tetapi juga kondisi infrastruktur jalan yang sudah tidak memadai.
Menurutnya, jalur Denpasar–Gilimanuk memiliki banyak tikungan dan tanjakan yang memperlambat laju kendaraan, terutama truk logistik.
Selain itu, peningkatan wisatawan domestik hingga 19 persen turut memperparah kepadatan lalu lintas di jalur tersebut.
“Kita tidak menyangka akan seramai ini. Kondisi jalan sudah tidak memadai untuk menampung volume kendaraan saat ini,” ujarnya.
Solusi Jangka Pendek Disiapkan
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah tengah mempertimbangkan kebijakan baru untuk mengatur pergerakan kendaraan logistik, termasuk melalui penerbitan surat edaran.
Selain itu, penambahan armada kapal penyeberangan sebenarnya telah dilakukan, namun permasalahan utama tetap berada pada akses jalan darat menuju dan dari pelabuhan.
Kemacetan panjang di Gilimanuk ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk melakukan pembenahan sistem transportasi dan infrastruktur menjelang arus mudik di tahun-tahun mendatang.(*)
*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani