Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan dan hembusan angin laut di Taiwan, berdiri sebuah tempat ibadah sederhana yang menyimpan kisah kebersamaan para pekerja migran Indonesia.
Musala Thoriqul Hidayah yang berada di kawasan Pelabuhan Fuji Ikang menjadi ruang spiritual sekaligus tempat mempererat persaudaraan para awak buah kapal (ABK) yang bekerja di kapal penangkap ikan.
Musala ini dibangun secara sederhana menggunakan tenda seadanya dan berdiri tepat di tepi laut.
Meski jauh dari kemegahan bangunan permanen, keberadaannya memiliki arti yang sangat besar bagi para jamaah yang sebagian besar adalah ABK Indonesia.
Salah satu dai dari Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ustadz Zainut Tholibin, sempat mengunjungi dan mengisi kegiatan dakwah di musala tersebut pada Rabu (4/3/2026).
Kehadirannya menjadi momen yang menguatkan semangat spiritual para jamaah yang hidup jauh dari tanah air.
Menurut Ustadz Zainut, musala yang telah berdiri sekitar empat hingga lima tahun terakhir itu hadir dari kebutuhan jamaah yang sebelumnya tidak memiliki tempat ibadah yang layak di area pelabuhan.
“Dulu sebelum ada musala, para jamaah hanya bisa shalat di pinggiran pelabuhan tanpa penutup apa pun, hanya beralaskan tikar seadanya,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, para jamaah yang mayoritas merupakan ABK kemudian berinisiatif membangun tempat ibadah secara gotong royong.
Dari usaha bersama itulah berdiri musala sederhana yang kini menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus ruang pertemuan para pekerja migran.
Ketika tidak sedang melaut, jumlah jamaah yang berkumpul di musala ini dapat mencapai sekitar 130 orang.
Mereka datang untuk menunaikan salat berjamaah, mengikuti pengajian, hingga sekadar berbagi cerita tentang kehidupan di perantauan.
Baca Juga: Pertengahan Ramadan Jadi Momentum Muhasabah Diri, Cara Menguatkan Taqwa dan Meraih Ampunan Allah SWT
Meski hanya berupa tenda sederhana di tepi laut, musala ini justru menjadi simbol keteguhan iman dan kuatnya rasa kebersamaan di antara para ABK.
“Walaupun musala ini hanya berupa tenda sederhana di tepi laut, semangat jamaahnya luar biasa. Mereka menjadikan tempat ini sebagai pusat ibadah sekaligus tempat memperkuat silaturahim,” tambahnya.
Keberadaan Musala Thoriqul Hidayah pun menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi para perantau untuk tetap menjaga ibadah dan kebersamaan.
Di tengah lautan luas dan kehidupan yang jauh dari keluarga, musala kecil di tepi pelabuhan ini menjadi pengingat bahwa rumah spiritual selalu bisa dibangun dari kebersamaan dan keikhlasan. (fin)
Editor : AA Arsyadani