Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena langka Gerhana Bulan Total (GBT) akan menghiasi langit Indonesia pada Selasa (3/3) petang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan masyarakat di berbagai wilayah Tanah Air berkesempatan menyaksikan langsung peristiwa astronomi tersebut, selama kondisi cuaca mendukung.
Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan gerhana mulai teramati pada pukul 18.03.56 WIB dan mencapai puncaknya pada waktu berbeda di tiap zona.
“Masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan salah satu fenomena astronomi tersebut secara langsung dari berbagai wilayah, dengan catatan kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan tebal,” ujarnya di Jakarta, Senin (2/3).
Jadwal Puncak Gerhana di Tiga Zona Waktu
Berdasarkan data BMKG, puncak Gerhana Bulan Total terjadi pada:
-
18.33.39 WIB
-
19.33.39 WITA
-
20.33.39 WIT
Fenomena ini akan berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB atau sekitar tengah malam waktu Indonesia timur, saat Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi.
Secara keseluruhan, durasi gerhana sejak fase awal hingga berakhir mencapai 5 jam 41 menit 51 detik.
Durasi parsialitas berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik, sementara fase totalitas, ketika Bulan sepenuhnya berada dalam bayangan umbra Bumi, terjadi selama 59 menit 27 detik.
Baca Juga: Selain Puasa, Ini Amalan Prioritas di Bulan Ramadan yang Pahalanya Berlipat Ganda
Indonesia Timur Punya Peluang Terbaik
BMKG mencatat wilayah Indonesia bagian timur memiliki visibilitas lebih baik. Pasalnya, masyarakat di kawasan tersebut dapat mengamati fase awal gerhana sejak Bulan terbit.
Sebaliknya, di Indonesia bagian barat, Bulan akan terbit ketika gerhana sudah memasuki fase totalitas atau mendekati puncak.
Artinya, pengalaman visual di tiap daerah bisa sedikit berbeda tergantung waktu terbit Bulan dan kondisi langit.
Mengapa Bulan Bisa Tampak Merah?
Saat puncak gerhana, Bulan berpotensi terlihat berwarna merah. Fenomena ini terjadi akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.
Cahaya Matahari dengan panjang gelombang pendek tersebar oleh atmosfer, sementara cahaya berwarna merah tetap diteruskan hingga mencapai permukaan Bulan. Efek inilah yang membuat Bulan tampak kemerahan saat fase totalitas.
Hanya Satu yang Terlihat dari Indonesia Tahun 2026
BMKG memperkirakan sepanjang 2026 akan terjadi empat kali gerhana, terdiri dari dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.
Karena itu, momen ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung fenomena astronomi tersebut tanpa alat khusus.
BMKG mengimbau masyarakat memilih lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG agar pengalaman menyaksikan gerhana lebih optimal. (fin)
Editor : AA Arsyadani