Jawa Pos Radar Lawu - Waktu sejatinya adalah umur manusia. Setiap detik yang berlalu berarti berkurangnya jatah kehidupan dan semakin mencakup seseorang kepada ajal.
Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, kesadaran tentang nilai waktu menjadi semakin penting karena setiap amal dilipatgandakan dan setiap kesempatan kebaikan terbuka lebar.
Siang dan malam terus berjalan tanpa pernah berhenti. Pergantian keduanya menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 62:
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
Ayat ini menegaskan bahwa waktu adalah sarana untuk muhasabah, bersyukur, dan memperbaiki diri.
Ramadhan: Momentum Emas Mengelola Waktu
Ramadhan bukan sekedar bulan ibadah ritual, melainkan musim ketaatan. Banyak Ramadhan telah berlalu dalam hidup kita datang dan pergi begitu cepat. Mereka yang dahulu menyambutnya, kini telah menghadap Allah SWT.
Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib , pernah berkata:
“Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia.”
Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah kesempatan memperkuat orientasi akhirat, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Baca Juga: Belajar Kitab Antiribet! Akses Ribuan Hadis Digital di Elipski Kemenag, Simak Baik-Baik Caranya
Nasihat Ulama tentang Nilai Waktu
Banyak ulama salaf menaruh perhatian besar terhadap waktu. Hasan al-Basri mengatakan bahwa manusia adalah kumpulan hari-hari; setiap hari yang berlalu berarti sebagian dirinya telah pergi.
Demikian pula Ibnu Mas'ud pernah mengungkapkan penyesalannya atas hari yang berlalu tanpa pertambahan amal.
Sementara Ibnul Qayyim menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian, karena kematian hanya memutus hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-buang waktu memutus hubungan dengan Allah dan akhirat.
Nasihat ini sangat relevan di bulan Ramadhan, ketika setiap detik bernilai pahala.
Hadis Nabi tentang Mengoptimalkan Umur
Muhammad Rasulullah SAW , bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
Hadis ini menegaskan bahwa waktu adalah amanah. Bahkan saat hari berhenti, manusia akan ditanya tentang umurnya untuk apa yang dihabiskan.
Dalam hadis lain disebutkan:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: nikmat sehat dan waktu luang.”
Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk tidak termasuk golongan yang tertipu.
Konsep Waktu dalam Perspektif Tafsir
Dalam kajian tafsir klasik, konsep waktu memiliki dimensi yang mendalam. Ulama besar seperti Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib menjelaskan berbagai istilah waktu dalam Al-Qur'an, seperti:
-
Waqt (waktu yang ditetapkan)
-
Ajal (batas akhir atau jangka waktu kehidupan)
-
Dahr (masa atau rentang waktu panjang)
-
'Ashar (masa, momentum, atau pelestarian)
Menurut ar-Razi, perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa waktu dalam Al-Qur'an bukan sekadar kronologi, tetapi memiliki dimensi teologis dan eksistensial. Waktu terkait dengan ketetapan Allah, takdir, serta tanggung jawab manusia.
Konsep ini memperkuat pemahaman bahwa Ramadhan bukan sekadar bagian dari kalender hijriah, melainkan fase spiritual yang harus dioptimalkan.
Mengisi Ramadhan dengan Amal Terbaik
Setiap kelompok memiliki peluang besar di bulan ini:
-
Pemuda memanfaatkan energi dan semangatnya sebelum datang masa lemah.
-
Orang sehat memaksimalkan ibadah sebelum datang sakit.
-
Orang kaya memperbanyak sedekah sebelum datang kesempitan.
-
Mereka yang luas waktunya memperbanyak dzikir, tilawah, dan ilmu sebelum kesibukan menghampiri.
Ramadhan adalah musim panen. Siapa pun yang menanam kebaikan, ia akan menuai keberkahan. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan waktu, ia akan merasakan penyesalan.
Refleksi: Sudahkah Kita Waktu Menjaga?
Waktu satu tahun mengibarat pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah mengomelnya, dan napas setiap adalah buahnya. Jika napas diisi dengan ketaatan, maka buahnya manis dan penuh berkah.
Maka di bulan yang mulia ini, mari:
-
Memperbanyak istighfar dan taubat
-
Menjaga shalat tepat waktu
-
Menghidupkan malam dengan qiyamul lail
-
mengurangi aktivitas sia-sia
-
Menguatkan niat dan konsistensi ibadah
Karena ketika Ramadhan telah berlalu, ia mungkin tidak kembali kepada kita.
Semoga Allah SWT memberkahi usia dan amal kita, serta memberi taufik agar mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya demi meraih ridha dan surga-Nya. (*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani