Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menjaga Waktu di Bulan Ramadhan: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Refleksi Ulama tentang Makna Umur

Mizan Ahsani • Jumat, 20 Februari 2026 | 11:53 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Waktu sejatinya adalah umur manusia. Setiap detik yang berlalu berarti berkurangnya jatah kehidupan dan semakin mencakup seseorang kepada ajal.

Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, kesadaran tentang nilai waktu menjadi semakin penting karena setiap amal dilipatgandakan dan setiap kesempatan kebaikan terbuka lebar.

Siang dan malam terus berjalan tanpa pernah berhenti. Pergantian keduanya menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 62:

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

Ayat ini menegaskan bahwa waktu adalah sarana untuk muhasabah, bersyukur, dan memperbaiki diri.

Ramadhan: Momentum Emas Mengelola Waktu

Ramadhan bukan sekedar bulan ibadah ritual, melainkan musim ketaatan. Banyak Ramadhan telah berlalu dalam hidup kita datang dan pergi begitu cepat. Mereka yang dahulu menyambutnya, kini telah menghadap Allah SWT.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib , pernah berkata:

“Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia.”

Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah kesempatan memperkuat orientasi akhirat, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Baca Juga: Belajar Kitab Antiribet! Akses Ribuan Hadis Digital di Elipski Kemenag, Simak Baik-Baik Caranya

Nasihat Ulama tentang Nilai Waktu

Banyak ulama salaf menaruh perhatian besar terhadap waktu. Hasan al-Basri mengatakan bahwa manusia adalah kumpulan hari-hari; setiap hari yang berlalu berarti sebagian dirinya telah pergi.

Demikian pula Ibnu Mas'ud pernah mengungkapkan penyesalannya atas hari yang berlalu tanpa pertambahan amal.

Sementara Ibnul Qayyim menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian, karena kematian hanya memutus hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-buang waktu memutus hubungan dengan Allah dan akhirat.

Nasihat ini sangat relevan di bulan Ramadhan, ketika setiap detik bernilai pahala.

Hadis Nabi tentang Mengoptimalkan Umur

Muhammad Rasulullah SAW , bersabda:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

Hadis ini menegaskan bahwa waktu adalah amanah. Bahkan saat hari berhenti, manusia akan ditanya tentang umurnya untuk apa yang dihabiskan.

Dalam hadis lain disebutkan:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: nikmat sehat dan waktu luang.”

Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk tidak termasuk golongan yang tertipu.

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Begini Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan yang Lupa karena Terlalu Lama Beserta Niatnya

Konsep Waktu dalam Perspektif Tafsir

Dalam kajian tafsir klasik, konsep waktu memiliki dimensi yang mendalam. Ulama besar seperti Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghaib menjelaskan berbagai istilah waktu dalam Al-Qur'an, seperti:

Menurut ar-Razi, perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa waktu dalam Al-Qur'an bukan sekadar kronologi, tetapi memiliki dimensi teologis dan eksistensial. Waktu terkait dengan ketetapan Allah, takdir, serta tanggung jawab manusia.

Konsep ini memperkuat pemahaman bahwa Ramadhan bukan sekadar bagian dari kalender hijriah, melainkan fase spiritual yang harus dioptimalkan.

Mengisi Ramadhan dengan Amal Terbaik

Setiap kelompok memiliki peluang besar di bulan ini:

Ramadhan adalah musim panen. Siapa pun yang menanam kebaikan, ia akan menuai keberkahan. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan waktu, ia akan merasakan penyesalan.

Baca Juga: Jangan Lewatkan! Doa Menyambut Ramadhan Agar Penuh Berkah dan Ampunan, Lengkap Arab, Latin & Artinya serta Manfaat Membacanya  

Refleksi: Sudahkah Kita Waktu Menjaga?

Waktu satu tahun mengibarat pohon, bulan-bulan adalah cabangnya, hari-hari adalah mengomelnya, dan napas setiap adalah buahnya. Jika napas diisi dengan ketaatan, maka buahnya manis dan penuh berkah.

Maka di bulan yang mulia ini, mari:

Karena ketika Ramadhan telah berlalu, ia mungkin tidak kembali kepada kita.

Semoga Allah SWT memberkahi usia dan amal kita, serta memberi taufik agar mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya demi meraih ridha dan surga-Nya. (*)

*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#Dalil Al Quran #ramadhan #hadis #Refleksi Ramadan #waktu