Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kemenag dan MUI Serukan Imam Masjid Doakan Palestina Selama Ramadan, Gemakan Qunut Nazilah di Seluruh Indonesia!

AA Arsyadani • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:06 WIB
Kemenag dan MUI ajak imam masjid doakan Palestina lewat Qunut Nazilah selama Ramadan 1447 H, perkuat solidaritas umat.
Kemenag dan MUI ajak imam masjid doakan Palestina lewat Qunut Nazilah selama Ramadan 1447 H, perkuat solidaritas umat.

Jawa Pos Radar Lawu - Ramadan 1447 Hijriah tak hanya dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah personal. Pemerintah bersama ulama menyerukan gelombang doa nasional untuk rakyat Palestina.

Seruan itu disampaikan oleh Kementerian Agama bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) usai Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 H di Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Ramadan Bukan Sekadar Ibadah Pribadi

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Ramadan harus menjadi ruang memperkuat solidaritas kemanusiaan global, termasuk untuk Palestina.

“Ramadan adalah bulan empati dan kepedulian. Kita ingin masjid-masjid di Indonesia tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat doa dan solidaritas untuk saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Menag.

Menurutnya, masjid memiliki peran strategis sebagai pusat spiritual sekaligus simpul persaudaraan umat lintas batas negara.

Perbedaan Awal Ramadan Jangan Jadi Sumber Perpecahan

Dalam kesempatan yang sama, Menag juga mengingatkan masyarakat agar menyikapi perbedaan awal puasa dengan bijak.

“Kalau ada perbedaan dalam memulai Ramadan, mari kita sikapi dengan kedewasaan. Indonesia ini indah karena keberagamannya. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk terpecah, tetapi jadikan sebagai kekayaan khazanah bangsa,” tambahnya.

Pesan ini menjadi penting di tengah dinamika metode penetapan awal bulan hijriah yang kerap berbeda antarormas.

MUI: Perbedaan Itu Keniscayaan, Persatuan Harga Mati

Ketua Umum MUI, Anwar Iskandar, menegaskan bahwa perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan adalah hal yang wajar dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.

“Perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi harmoni yang indah. Sebagai bangsa yang demokratis, kita perlu membiasakan diri untuk berbeda. Persatuan umat adalah bagian penting dari stabilitas nasional yang memungkinkan pemerintah dan rakyat membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” ujarnya.

MUI menekankan bahwa perbedaan teknis atau ijtihadi dalam penentuan awal Ramadan tidak menyentuh aspek akidah yang prinsipil (qath’i).

Karena itu, umat Islam diminta tetap menjaga ukhuwah dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik.

Puasa Paripurna: Lisan, Tangan, dan Media Sosial Ikut Berpuasa

Tak hanya soal solidaritas dan persatuan, MUI juga mengingatkan makna puasa secara menyeluruh.

“Kita harus mempuasakan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang dilarang agama. Mulut dijaga agar tidak menyakiti, berdusta, atau memfitnah. Tangan juga harus dipuasakan dari menulis hal-hal yang mengadu domba di media sosial. Mari kita melahirkan jiwa yang penuh kasih sayang dan kemanusiaan,” lanjutnya.

Ramadan, menurut MUI, harus melahirkan pribadi yang lebih santun, damai, dan bertanggung jawab, termasuk dalam bermedia sosial.

Qunut Nazilah untuk Palestina Digemakan di Masjid

Secara khusus, MUI menyerukan kepada para imam dan pengelola masjid dari berbagai ormas Islam agar menggaungkan doa Qunut Nazilah sepanjang Ramadan untuk keselamatan dan kemerdekaan rakyat Palestina.

Seruan ini ditujukan kepada jaringan masjid di bawah naungan organisasi seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Al-Washliyah, Wahdah Islamiyah, dan ormas Islam lainnya.

“Kami berharap di bulan yang mustajab ini, para imam masjid memohon kepada Allah SWT untuk kemerdekaan warga Palestina dan pertolongan bagi saudara-saudara kita di Gaza. Semoga Ramadan ini membawa keselamatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia,” tutupnya.

Seruan ini menjadi penegasan bahwa Ramadan 1447 H bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membangun empati, menjaga persatuan, dan menguatkan doa untuk kemanusiaan global. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Majelis Ulama Indonesia (MUI) #Ramadan 1447 H #Qunut Nazilah