Jawa Pos Radar Madiun - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, angpao, barongsai, hingga meja makan penuh hidangan simbolis.
Namun di balik kemeriahannya, Imlek menyimpan makna mendalam tentang harapan, keluarga, dan keberuntungan.
Di Indonesia, Imlek kembali dirayakan secara terbuka sejak era Presiden Abdurrahman Wahid.
Sejak saat itu, perayaan ini menjadi bagian dari wajah keberagaman budaya nasional. Bahkan detail kecil seperti cara menyantap ikan pun memiliki filosofi tersendiri.
Berikut 10 tradisi Tahun Baru Imlek beserta maknanya:
1. Bersih-Bersih Rumah untuk “Menyapu” Kesialan
Menjelang Imlek, rumah dibersihkan menyeluruh sebagai simbol membuang energi negatif tahun sebelumnya. Rumah yang bersih dipercaya membuka jalan bagi datangnya keberuntungan.
Namun pada hari pertama Imlek, orang dianjurkan tidak menyapu atau membuang sampah keluar rumah karena diyakini bisa ikut “menyapu” rezeki yang baru datang.
2. Warna Merah sebagai Simbol Perlindungan
Merah mendominasi dekorasi Imlek: lampion, pakaian, hingga angpao. Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, kekuatan, dan kemakmuran.
Kepercayaan ini berakar dari legenda monster Nian yang takut pada warna merah dan suara keras. Karena itu, merah dipercaya mampu mengusir energi negatif.
3. Hidangan Simbolis Penuh Makna
Makan bersama keluarga adalah inti perayaan. Beberapa tradisi menghadirkan hingga 12 jenis makanan yang melambangkan 12 shio.
Beberapa hidangan bermakna khusus:
-
Mi panjang: simbol umur panjang
-
Kue keranjang (nian gao): peningkatan rezeki
-
Kue lapis: rezeki berlapis-lapis
-
Permen manis: doa kehidupan yang manis
Baca Juga: Kapan Awal Puasa 2026? Ini Jadwal Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 1447 H
4. Pantangan Makan Bubur di Hari Pertama
Bubur dianggap melambangkan kesederhanaan ekstrem atau kemiskinan. Karena Imlek identik dengan doa kemakmuran, makanan ini biasanya dihindari pada hari pertama tahun baru.
5. Larangan Membalik Ikan
Ikan hampir selalu hadir di meja makan. Dalam bahasa Mandarin, kata “yu” (ikan) terdengar mirip dengan kata “kelimpahan”.
Ikan tidak boleh dibalik saat disantap karena dipercaya bisa “membalikkan” keberuntungan. Biasanya sisi bawah dibiarkan utuh hingga keesokan hari.
6. Silaturahmi dan Kunjungan Keluarga
Imlek menjadi momen mempererat hubungan keluarga. Kunjungan biasanya dimulai dari keluarga inti lalu berlanjut ke kerabat lain.
Nilai harmoni keluarga dipercaya sebagai fondasi utama datangnya keberuntungan.
7. Berbagi Angpao
Angpao diberikan oleh yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Warna merah melambangkan perlindungan dan keberuntungan.
Angka delapan sering dipilih karena dipercaya membawa kemakmuran. Lebih dari sekadar uang, angpao adalah simbol doa dan berbagi berkah.
8. Sembahyang dan Penghormatan Leluhur
Bagi umat Buddha dan Konghucu, Imlek juga diisi ritual sembahyang sebagai bentuk bakti kepada leluhur.
Di Jakarta, Vihara Dharma Bhakti menjadi salah satu lokasi yang ramai dikunjungi saat Imlek. Tradisi ini menegaskan pentingnya menghormati akar keluarga.
9. Atraksi Barongsai
Pertunjukan Barongsai selalu menjadi daya tarik utama. Gerakan energik dan tabuhan musik dipercaya membawa keberuntungan serta mengusir roh jahat.
Kini, barongsai menjadi simbol kemeriahan sekaligus identitas budaya Tionghoa yang lestari.
10. Petasan dan Kembang Api
Suara petasan dipercaya mampu mengusir energi negatif dari tahun sebelumnya. Warna merah kembali mendominasi sebagai simbol keberuntungan.
Meski kini penggunaannya diatur demi keamanan, makna simboliknya tetap kuat dalam perayaan.
Tradisi yang Terus Hidup di Tengah Modernitas
Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah rangkaian simbol tentang harapan, keberuntungan, keluarga, dan rasa syukur.
Dari membersihkan rumah hingga berbagi angpao, dari hidangan simbolis hingga barongsai, semuanya menyampaikan pesan yang sama: memulai tahun dengan optimisme dan niat baik. (fin)
Editor : AA Arsyadani