Jawa Pos Radar Madiun - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan prakiraan cuaca nasional. Hasilnya, curah hujan masih berpotensi tinggi selama periode mudik dan arus balik Lebaran.
BMKG menegaskan Indonesia masih berada di fase puncak musim hujan.
“Yang pertama perlu kami sampaikan bahwa saat ini kita masih berada di puncak musim hujan pada Januari–Februari, kemudian akan melandai. Namun hujan dengan intensitas tinggi ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Senin (16/2).
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Prediksi Curah Hujan Februari–Maret 2026
Februari 2026
Curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga tinggi. Wilayah dengan potensi hujan sangat tinggi meliputi:
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Sulawesi Selatan
Maret 2026
Kategori hujan diprediksi menengah hingga tinggi, dengan potensi sangat tinggi di:
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Sulawesi Selatan
- Papua Tengah
BMKG juga mengingatkan adanya peningkatan intensitas hujan pada minggu keempat Februari hingga minggu kedua Maret 2026.
"BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan intensitas curah hujan terutama pada minggu keempat Februari hingga minggu kedua Maret 2026," ucapnya.
Fenomena Atmosfer Masih Aktif
Selama periode Lebaran, sejumlah dinamika atmosfer diprediksi masih memengaruhi cuaca Indonesia, antara lain:
- Monsun Asia
- Madden-Julian Oscillation (MJO)
- Gelombang atmosfer
- Potensi bibit siklon dan siklon tropis di wilayah selatan Indonesia
Untuk periode 1–31 Maret 2026, cuaca didominasi berawan hingga hujan sedang. Pada 1–10 Maret, hujan ringan hingga sedang masih dominan, dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua.
Pada 11–20 Maret serta 21–30 Maret, pola cuaca relatif serupa.
"BMKG menegaskan bahwa prakiraan cuaca akan terus diperbarui berdasarkan analisis dan data terkini," bebernya.
Waspada Awan Cumulonimbus dan Turbulensi
BMKG juga menyoroti potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) di Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara.
Dampaknya bisa berupa:
- Turbulensi dan petir pada rute penerbangan
- Hujan lebat dan badai guntur
- Angin kencang (wind gust)
- Wind shear di area bandara
Kondisi ini berpotensi memengaruhi jadwal penerbangan selama arus mudik dan balik.
Potensi Banjir Rob 19–22 Maret 2026
BMKG juga mengingatkan risiko banjir rob akibat kombinasi fase Bulan Baru pada 19 Maret 2026 dan fase Perigee pada 22 Maret 2026 yang meningkatkan pasang air laut.
"Wilayah pesisir Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan," tegasnya.
Wilayah pesisir di berbagai daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi genangan dan gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG Siapkan Sistem Informasi Angkutan Lebaran
Untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026, BMKG menyiapkan berbagai platform informasi cuaca, antara lain:
- Digital Weather for Traffic (DWT)
- System of Interactive Aviation Meteorology (Ina-SIAM)
- Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS)
- Website & aplikasi InfoBMKG
- Media sosial resmi
- Dynamic Message Sign (DMS) di jalan tol
- SMS Blast dan display cuaca outdoor
BMKG juga membentuk posko pusat dan daerah, termasuk 38 UPT di seluruh provinsi, posko gabungan di 13 pelabuhan dan 96 bandara.
Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan dilakukan secara situasional untuk menekan intensitas hujan di wilayah berisiko tinggi.
Mudik Aman, Tapi Tetap Waspada
Libur Idul Fitri 2026 diprediksi masih diwarnai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi di sejumlah wilayah. Risiko banjir rob dan gangguan penerbangan juga perlu diantisipasi.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan prakiraan cuaca resmi BMKG demi keamanan dan kenyamanan perjalanan Lebaran. (fin)
Editor : AA Arsyadani