Jawa Pos Radar Lawu – Tren pendakian gunung di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z, belakangan semakin meningkat.
Aktivitas yang dahulu identik dengan pecinta alam kini berubah menjadi bagian dari gaya hidup populer, terutama di media sosial.
Banyak pendaki muda yang naik gunung demi konten, eksistensi, dan validasi sosial, tanpa memahami makna sejati dari sebuah pendakian.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendorong sebagian anak muda ikut-ikutan mendaki tanpa persiapan yang matang.
Gunung pun kerap dijadikan latar belakang foto semata, bukan lagi ruang refleksi dan pembelajaran. Padahal, gunung menyimpan nilai-nilai historis, ekologis, dan spiritual yang patut dihormati.
Fenomena FOMO dan Risiko Pendakian
Mendaki gunung bukan aktivitas biasa. Perubahan cuaca ekstrem, jalur terjal, dan keterbatasan oksigen menjadi tantangan serius yang memerlukan kesiapan fisik dan mental.
Tanpa persiapan yang memadai, pendaki berisiko mengalami hipotermia, dehidrasi, kram otot, hingga penyakit ketinggian seperti AMS, HAPE, dan HACE yang dapat mengancam nyawa.
Namun, kenyataannya masih banyak pendaki pemula yang mengabaikan standar keselamatan. Mereka berangkat tanpa pengetahuan dasar, perlengkapan yang mampu, dan perencanaan yang matang.
Tujuan utama sering kali bukan lagi pengalaman dan pembelajaran, melainkan mengunggah foto di puncak.
Baca Juga: Gunung Wilis via Kare: Spot Camping dan Pendakian Sejuk di Lereng Madiun
Dampak Terhadap Lingkungan Gunung
Selain membahayakan diri sendiri, tren pendakian tanpa kesadaran juga berdampak serius terhadap lingkungan. Lonjakan jumlah pendaki tidak selalu diiringi kepedulian terhadap kelestarian alam.
Sampah plastik, tisu basah, botol sekali pakai, hingga sisa makanan masih sering ditemukan di jalur pendakian.
Beberapa gunung bahkan mengalami kerusakan vegetasi akibat pijakan yang tidak terkendali. Aksi vandalisme berupa coretan di batu dan papan petunjuk juga menjadi masalah yang mencederai nilai konservasi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, gunung yang seharusnya menjadi ruang belajar dan pelestarian justru berubah menjadi objek eksploitasi.
Makna Sejati di Balik Pendakian Gunung
Di tengah fenomena tersebut, penting untuk mengingat kembali makna dasar dari aktivitas pendakian.
Pendakian sejatinya adalah proses pembelajaran tentang disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan penghormatan terhadap alam.
Dalam pendakian, manusia berhadapan langsung dengan kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan.
Dari situlah lahir kesadaran bahwa alam bukanlah objek wisata biasa, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.
Seperti disampaikan Muhammad Taufiq Ulinuha, Ketua Bidang Data dan Informasi LRB-MDMC PWM Jawa Tengah, gunung bukanlah tempat yang bisa dikunjungi sembarangan tanpa bekal.
Gunung merupakan ruang suci alam yang menuntut sikap hormat dan kesadaran penuh dari setiap pengunjungnya.
Baca Juga: Eksplor Jalur Pendakian Bukit Mongkrang, Mendaki Asyik Ala Pemula, Memperhatikan Tips Berikut Ini
Peran Generasi Muda dalam Menjaga Nilai Pendakian
Sebagai generasi muda, khususnya pelajar yang aktif di komunitas pecinta alam, sudah saatnya mengambil peran edukatif.
Pendaki berpengalaman perlunya mengingatkan pendaki pemula tentang pentingnya persiapan, etika pendakian, dan prinsip tidak meninggalkan jejak .
Eksistensi sejati bukan diukur dari jumlah unggahan atau popularitas di media sosial, melainkan dari sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Gunung mengajarkan tentang kebersamaan, pengendalian ego, kedewasaan emosional, serta keberanian menghadapi tantangan.
Baca Juga: 6 Outfit Wajib Wanita Petualang Naik Gunung, Tetap Fungsional tapi Stylish di Jalur Pendakian
Mendaki sebagai Bentuk Pengendalian Diri
Mendaki gunung bukan sekedar mencapai puncak, namun tentang proses menyelaraskan diri dengan alam.
Setiap langkah mengajarkan ketekunan, setiap tanjakan melatih kesabaran, dan setiap rintangan membentuk karakter.
Pendakian juga menjadi sarana refleksi spiritual, mengolah cipta, rasa, dan karsa agar lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Dalam keheningan gunung, manusia diajak memahami keterbatasannya sekaligus mensyukuri kehidupan.
Oleh karena itu, mencapai sejatinya adalah latihan pengendalian diri, bukan ajang pamer eksistensi.
Baca Juga: Dilarang Solo Hiking, Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemorosewu Kembali Dibuka
Menuju Budaya Pendakian yang Bijak
Budaya pendakian yang sehat harus dibangun atas dasar kesadaran, pendidikan, dan tanggung jawab.
Setiap pendaki perlu memahami bahwa keselamatan dan kelestarian alam adalah prioritas utama.
Persiapan fisik, mental, logistik, serta pengetahuan dasar pendakian bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mutlak.
Selain itu, menjaga kebersihan, menghindari vandalisme, dan menghormati aturan kawasan konservasi menjadi bentuk nyata cinta terhadap alam.
Dengan membangun budaya pendakian yang bijak, gunung akan tetap lestari dan dapat dinikmati generasi mendatang.
Baca Juga: Rekomendasi Gunung yang Cocok untuk Pendakian di Musim Hujan, Pendaki Pemula Wajib Paham!
penutup
Mengembalikan makna pendakian gunung berarti mengembalikan nilai-nilai tanggung jawab, kesadaran, dan penghormatan terhadap alam.
Pendakian bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan siapa yang mampu bertahan, menjaga lingkungan, dan pulang dengan selamat.
Di era digital yang serba instan, generasi muda diharapkan mempu menempatkan pendakian sebagai perjalanan batin dan pembentukan karakter, bukan sekedar tren sesaat.
Dengan demikian, gunung akan tetap menjadi ruang pembelajaran, bukan sekadar latar belakang konten.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani