Jawa Pos Radar Lawu - Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas di Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir akibat cuaca musim dingin ekstrem badai salju yang melanda wilayah selatan dan timur negara itu.
Laporan Antara menyebut, korban jiwa tersebut merupakan dampak langsung dari badai salju dan suhu beku yang menyelimuti sejumlah negara bagian.
Antara mengumpulkan data korban jiwa dari pernyataan resmi pemerintah negara bagian, menyusul peningkatan peringatan keselamatan, penutupan fasilitas publik, serta gangguan akses jalan dan layanan dasar.
Salah satu korban dilaporkan meninggal di Austin, Texas. Wali Kota Austin, Kirk Watson menyatakan, korban tewas akibat badai yang memicu suhu ekstrem, hujan es, dan kemacetan lalu lintas di beberapa ruas utama kota.
Sementara itu di Louisiana, dua orang meninggal dunia akibat hipotermia selama akhir pekan.
Kematian terjadi setelah suhu turun drastis dan sejumlah daerah mengalami gangguan pasokan listrik.
21 Negara Bagian Tetapkan Status Darurat
Layanan Cuaca Nasional AS (NWS) memperkirakan badai salju disertai lapisan es akan terus meluas dari Texas bagian timur hingga North Carolina.
Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, pemadaman listrik, dan penutupan jalan serta bandara.
NWS juga memperingatkan bahwa kombinasi hujan beku, angin kencang, dan salju tebal dapat memperburuk kondisi darurat, terutama di negara bagian selatan yang secara infrastruktur kurang siap menghadapi cuaca ekstrem musim dingin.
Sebanyak 21 negara bagian telah menetapkan status darurat untuk memudahkan mobilisasi sumber daya, penutupan fasilitas umum, dan akses bantuan dari pemerintah federal.
130 Ribu Rumah Tanpa Listrik
Berdasarkan data dari Poweroutage Tracker, lebih dari 130.000 rumah di Amerika Serikat mengalami pemadaman listrik pada Sabtu malam (24/1).
Texas dan Louisiana mencatat jumlah pemadaman terbesar, dengan lebih dari 100.000 rumah terdampak.
Cuaca ekstrem ini bahkan disebut oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump, sebagai “hujan salju bersejarah”.
Situasi tersebut menandai tingginya kerentanan infrastruktur terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, serta perlunya kesiapsiagaan yang lebih baik dari seluruh sektor di AS dalam menghadapi musim dingin mendatang. (antara)
Editor : Nur Wachid