Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Geopix Temukan Dugaan Satwa Alami Stres di Bandung Zoo, Orangutan hingga Gajah Mendapat Sorotan

AA Arsyadani • Senin, 19 Januari 2026 | 13:22 WIB
Kandang gajah di Kebun Binatang Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.
Kandang gajah di Kebun Binatang Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.

Jawa Pos Radar Lawu - Organisasi konservasi satwa Geopix mengungkap temuan lapangan terkait dugaan kondisi stres pada sejumlah satwa di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo). Temuan ini memicu kekhawatiran serius mengenai kesiapan pengelolaan kebun binatang tersebut untuk kembali dibuka kepada publik.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai kondisi kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama sebelum aktivitas wisata kembali diizinkan.

“Temuan lapangan terkait dugaan kondisi stres pada orang utan, gajah, dan monyet hitam sangat mengkhawatirkan, memprihatinkan, dan tidak boleh diabaikan,” kata Annisa dalam keterangan yang diterima di Bandung, Senin (19/1).

Desakan Evaluasi Menyeluruh Sebelum Dibuka Kembali

Annisa menegaskan, rencana pembukaan kembali Bandung Zoo seharusnya didahului oleh evaluasi menyeluruh yang melibatkan pengelola serta pemerintah. Menurutnya, keputusan membuka kebun binatang di tengah persoalan internal pengelolaan berpotensi mengorbankan kesejahteraan satwa.

“Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa membuka kembali kebun binatang tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak,” ujarnya.

Perilaku Gajah Jadi Indikator Stres

Sorotan serupa disampaikan Senior Biologist sekaligus Wildlife Curator Center for Orangutan Protection, Indira Nurul Qomariah. Ia menyoroti perilaku salah satu gajah yang menunjukkan stereotip, yakni gerakan berulang tanpa tujuan jelas.

Menurut Indira, perilaku tersebut merupakan indikator umum stres pada satwa liar yang hidup dalam lingkungan tidak ideal.

Ia menjelaskan, kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya interaksi sosial, keterbatasan ruang, dan minimnya stimulasi lingkungan yang mendukung kesejahteraan satwa.

Risiko Buruk bagi Konservasi Eks-Situ

Geopix menilai, pembukaan kebun binatang di tengah indikasi gangguan kesejahteraan satwa justru berpotensi memperparah kondisi psikologis dan fisik satwa. Situasi ini juga dianggap mencerminkan lemahnya tata kelola konservasi eks-situ di Indonesia jika tidak ditangani secara serius.

Penjelasan Pengelola Bandung Zoo

Menanggapi isu tersebut, Juru Bicara Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), Ully Rangkuti, menyampaikan klarifikasi terkait aktivitas pengelola di Bandung Zoo.

Ia menegaskan bahwa sejak Agustus 2025, pengurus dan manajemen YMT di bawah pimpinan John Sumampauw tidak lagi berkegiatan secara fisik di kawasan kebun binatang.

“Sejak saat itu, keberadaan personel di Bandung Zoo difokuskan pada tenaga teknis yang menangani kesejahteraan satwa, yaitu keeper dan dokter hewan,” ujar Ully.

Menurut Ully, kebijakan tersebut merupakan bentuk kepatuhan terhadap arahan Pemerintah Kota Bandung, yang meminta agar hanya pihak dengan tugas langsung perawatan satwa berada di area kebun binatang.

Kasus ini menegaskan pentingnya transparansi, evaluasi independen, dan pengawasan ketat dalam pengelolaan kebun binatang, agar fungsi konservasi tidak bergeser semata menjadi kepentingan wisata. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Geopix #Yayasan Margasatwa Tamansari #bandung zoo