PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu – Meski telah memasuki bulan Januari yang identik dengan musim hujan, cuaca panas Januari masih dirasakan warga. Berdasarkan pantauan cuaca Ponorogo hari ini pada Selasa (7/1/2026) sore, suhu udara tercatat 28 derajat Celsius, namun terasa hingga 30–31 derajat Celsius dengan kondisi berawan.
Fenomena cuaca panas di tengah musim hujan ini kerap menimbulkan pertanyaan di masyarakat.
Penjelasan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) bahwa kondisi tersebut masih tergolong wajar dan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer.
BMKG menyebutkan, salah satu penyebab utama adalah belum stabilnya angin monsun barat yang berfungsi membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia.
Ketika angin monsun belum bertiup konsisten atau masih bercampur dengan aliran udara kering, pembentukan awan hujan menjadi terbatas.
Selain itu, kondisi uap air di atmosfer yang masih minim membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi.
Dampaknya, suhu udara pada siang hari terasa lebih panas meski secara kalender sudah masuk musim hujan.
Faktor lain yang turut berpengaruh adalah perubahan iklim global. Pola cuaca saat ini cenderung lebih dinamis dan sulit diprediksi.
Akibatnya, musim hujan bisa datang terlambat, hujan turun tidak merata, atau diselingi periode panas dalam beberapa hari.
Data cuaca terkini menunjukkan kondisi berawan di wilayah Ponorogo dengan kelembapan udara 73 persen, angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan sekitar 4,8 kilometer per jam, serta tidak ada peringatan cuaca ekstrem saat ini.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat yang dapat turun secara tiba-tiba setelah periode panas.
Warga juga disarankan menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, dan bijak menggunakan air di tengah cuaca yang masih terasa panas.
BMKG menegaskan, meski terasa tidak biasa, pergeseran pola musim merupakan fenomena yang wajar, namun tetap perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi masyarakat. (kid)
Editor : Nur Wachid