Jawa Pos Radar Lawu – Isu masuknya super flu virus ke Indonesia kembali menjadi perhatian publik.
Menanggapi pemberitaan terkait influenza A (H3N2) subklade K, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati menyampaikan bahwa berdasarkan penilaian World Health Organization (WHO) dan kondisi epidemiologi terkini, subklade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan klade atau subklade influenza lainnya.
“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” kata Widyawati di Jakarta, Kamis dilansir dari Antara.
Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan. Kemenkes terus melakukan surveilans, pelaporan, serta menyiapkan kebijakan dan langkah respons sesuai perkembangan situasi.
Tren Global hingga Asia
Widyawati menjelaskan, secara global peningkatan kasus influenza A (H3) mulai terlihat di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025 atau sekitar Oktober, seiring masuknya musim dingin.
“Jumlah kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat sebanyak 1.127 kasus,” ujarnya.
Sementara di kawasan Asia, subklade K telah dilaporkan di sejumlah negara seperti China, Korea, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak minggu ke-30 tahun 2025, dengan varian dominan influenza A (H3).
“Namun demikian, tren kasus influenza di negara tetangga tersebut cenderung menurun dalam dua bulan terakhir,” katanya.
Situasi di Indonesia
Di Indonesia, varian influenza yang dominan juga influenza A (H3). Namun, tren kasus nasional menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.
Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) yang selesai pada 25 Desember 2025 menunjukkan bahwa subklade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dari laporan 88 sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di seluruh Indonesia.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Dari sisi demografi, kasus influenza A (H3) paling banyak ditemukan pada perempuan (64 persen) dan anak usia 1–10 tahun (35 persen). Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 sampel dilakukan genome sequencing.
“Dengan temuan 152 atau 44 persen tipe A(H1), 172 atau 49 persen tipe A(H3), dengan 62 atau 36 persen di antaranya subklade K. Dan sisanya 24 atau 7 persen adalah tipe B/Victoria,” jelasnya.
Kemenkes menegaskan bahwa seluruh varian yang ditemukan bukan virus baru, sudah dikenal secara global, dan terus dipantau dalam sistem surveilans WHO.
Imbauan Kemenkes
Untuk menekan risiko penularan, Kemenkes mengimbau masyarakat:
Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Rajin cuci tangan, istirahat cukup, dan konsumsi makanan bergizi
Melakukan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita komorbid
Tetap di rumah saat sakit, perbanyak istirahat, konsumsi obat antivirus sesuai anjuran
Menerapkan etika batuk dan penggunaan masker
Langkah-langkah tersebut dinilai efektif untuk menjaga situasi influenza di Indonesia tetap terkendali. (kid)
Editor : Nur Wachid