Jawa Pos Radar Lawu - Viral aksi warga menggotong seorang ibu hamil ditandu 3 km demi mendapatkan pertolongan medis menjadi sorotan publik.
Dalam kondisi darurat, ibu hamil tersebut harus seberangi sungai karena akses jalan menuju fasilitas kesehatan tidak bisa dilalui kendaraan.
Peristiwa ibu hamil ditandu dan seberangi sungai untuk melahirkan ini terekam video dan menyebar luas di media sosial.
Banyak warganet terenyuh melihat perjuangan warga dan keluarga agar sang ibu bisa segera melahirkan dengan selamat.
Akses Medis Terbatas, Ibu Hamil Harus Digotong Melewati Sungai
Seorang wanita hamil di Kampung Wae Tulu, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengalami pendarahan saat kehamilan dua bulan sehingga perlu segera dievakuasi ke rumah sakit.
Karena medan berat dan akses jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan, warga setempat mengambil keputusan untuk menggotong ibu hamil pendarahan digotong warga 3 km menuju ambulans atau titik jalan yang bisa diakses kendaraan medis.
Dalam proses evakuasi tersebut, warga harus melewati sungai dengan lebar sekitar 120 meter serta medan bukit yang curam.
Cara yang digunakan yakni dengan menggotong korban menggunakan bambu yang dibalut sarung sebagai tandu, kemudian bergantian memikulnya hingga mencapai jalur yang bisa dilalui kendaraan.
Perjuangan Warga Dipicu Medan dan Infrastruktur Terbatas
Evakuasi ini sendiri tidak dilakukan dalam hitungan puluhan meter, melainkan dengan jarak beberapa kilometer, termasuk melewati sungai dan tanjakan bukit.
Total jarak yang ditempuh warga saat ibu hamil pendarahan digotong warga 3 km menuju fasilitas kesehatan diperkirakan mencapai sekitar 3 – 5 km sebelum akhirnya bisa bertemu ambulans puskesmas yang menunggu.
Sejumlah warga mengatakan bahwa medan yang sulit ini bukan kejadian sekali atau dua kali, melainkan sudah sering terjadi di kampung mereka karena akses jalan yang minim dan belum terhubung ke fasilitas kesehatan dengan baik.
Viral di Media Sosial dan Respons Publik
Momen ibu hamil pendarahan digotong warga 3 km dan seberangi sungai kemudian viral di media sosial setelah direkam warga setempat.
Rekaman itu menunjukkan bagaimana warga bergotong-royong membawa pasien demi keselamatan ibu dan calon bayi meskipun medan sangat berat.
Warganet yang melihat video tersebut memberikan reaksi beragam, sebagian besar memuji solidaritas komunitas lokal yang cepat tanggap dalam situasi darurat.
Kisah ini juga memicu diskusi publik mengenai kebutuhan perbaikan infrastruktur akses layanan kesehatan di daerah terpencil.
Sorotan Infrastruktur dan Akses Layanan Kesehatan
Peristiwa ini ikut mengingatkan pentingnya infrastruktur yang memadai di wilayah pedesaan dan terpencil.
Dalam kondisi ideal, seorang ibu hamil yang mengalami komplikasi akan segera mendapat pertolongan medis tanpa harus melalui medan berat atau menyeberangi sungai.
Ahli kesehatan dan pekerja lapangan mengungkapkan bahwa di banyak komunitas terpencil, warga masih sering membawa ibu hamil menggunakan tandu atau alat sederhana lainnya karena kendaraan medis tidak bisa mencapai lokasi pasien yang jauh dari jalan utama.
Harapan Perbaikan Akses dan Respons Medis
Kisah perjuangan ini menjadi pengingat pentingnya pemerataan layanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur, terutama di daerah yang masih terisolasi.
Warga berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat mempercepat penanganan fasilitas jalan serta akses menuju puskesmas atau rumah sakit, sehingga ibu hamil pendarahan tidak harus menghadapi risiko tinggi saat hendak mendapatkan pertolongan. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid