Jawa Pos Radar Lawu - Suasana magis menyelimuti Desa Beiji, Kota Mohe, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, saat ribuan warga dan wisatawan berkumpul untuk merayakan Titik Balik Matahari Musim Dingin, momen astronomi yang menandai hari terpendek dan malam terpanjang dalam setahun, pada Minggu (21/12).
Festival budaya tahunan ini menjadi salah satu perayaan paling dinanti di wilayah paling utara China.
Di tengah suhu ekstrem yang menusuk, masyarakat justru memadati lokasi acara untuk menikmati rangkaian pertunjukan tradisi khas musim dingin yang hanya bisa disaksikan di kawasan bersuhu beku seperti Mohe.
Salah satu atraksi yang paling menyita perhatian adalah pertunjukan fenomenal “air menjadi es”, sebuah demonstrasi budaya yang memperlihatkan air panas dilempar ke udara dan seketika membeku sebelum menyentuh tanah.
Atraksi ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga simbol kekuatan alam dan adaptasi manusia terhadap cuaca ekstrem di Heilongjiang.
Tak kalah memukau, langit malam Desa Beiji dihiasi pertunjukan kembang api yang meledak di tengah gelapnya malam terpanjang.
Cahaya warna-warni berpadu dengan hamparan salju, menciptakan suasana bak negeri dongeng musim dingin yang memikat mata dan kamera para pengunjung.
Festival Titik Balik Musim Dingin ini juga menjadi ruang pertemuan budaya, di mana warga lokal memperkenalkan tradisi rakyat China timur laut, mulai dari pertunjukan seni, ritual simbolik, hingga aktivitas kebersamaan yang merefleksikan harapan akan datangnya hari-hari yang lebih terang setelah musim dingin mencapai puncaknya.
Selain bernilai budaya, perayaan ini turut mendorong pariwisata musim dingin Heilongjiang, khususnya di Mohe yang dikenal sebagai salah satu destinasi terbaik untuk merasakan musim dingin ekstrem dan fenomena alam unik di China. (fin)
Editor : AA Arsyadani