Jawa Pos Radar Lawu - Penangkapan Dewi Astutik di Kamboja menjadi perhatian publik setelah BNN berhasil menghentikan buronan internasional ini.
Dalam operasi itu, BNN mengungkap jaringan narkotika besar yang dikendalikan oleh pelaku.
Dugaan penyelundupan sabu 2 ton membuat kasus ini menjadi salah satu pengungkapan terbesar di Indonesia tahun 2025.
Publik menanti rincian lebih lanjut karena keberhasilan ini menunjukkan betapa luas dan kompleksnya jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik.
Fakta Utama
Badan Narkotika Nasional (BNN) resmi menangkap Dewi Astutik, buronan kasus penyelundupan sabu 2 ton, dalam operasi gabungan di Sihanoukville, Kamboja.
Penangkapan dilakukan pada 1 Desember 2025 setelah pelacakan panjang bersama otoritas Kamboja dan Interpol.
Dewi disebut sebagai pengendali jaringan internasional yang menyuplai sabu ke Indonesia melalui jalur laut.
Ia kemudian dipulangkan ke Indonesia dan langsung menjalani pemeriksaan intensif terkait dugaan keterlibatannya dalam jaringan narkotika skala besar.
Kronologi Penangkapan Dewi Astutik
Operasi pengejaran dimulai sejak BNN mengungkap penyelundupan 2 ton sabu pada Mei 2025 di Kepulauan Riau.
Identitas Dewi dibuka ke publik, namun warga Ponorogo menyatakan nama tersebut kemungkinan palsu, dan pelaku diduga menggunakan identitas lain saat tinggal di luar negeri.
Setelah masuk dalam red notice Interpol, BNN melacak keberadaan Dewi yang sering berpindah negara seperti Hong Kong, Taiwan, hingga Kamboja.
Akhirnya, tim gabungan berhasil menangkapnya di sebuah hotel tanpa perlawanan, sebelum dievakuasi ke Jakarta untuk pendalaman kasus.
Jaringan dan Modus Operasi Sabu 2 Ton
BNN mengungkap bahwa Dewi bukan sekadar pengantar, melainkan diduga sebagai pengendali jaringan yang mengatur distribusi sabu melalui jalur laut dari kawasan Golden Triangle.
Jaringan ini menggunakan kapal kecil dari luar negeri, lalu memindahkan barang ke kapal lokal di tengah laut untuk menghindari radar aparat.
Dewi diduga berperan dalam pendanaan, penjadwalan pengiriman, hingga perekrutan kurir lintas negara.
BNN menyebut jaringan ini termasuk yang paling rapi dan sulit diendus dalam beberapa tahun terakhir.
Identitas Ganda dan Pelarian Selama Bertahun-Tahun
Dalam penyelidikan, polisi menemukan bahwa identitas “Dewi Astutik” kemungkinan palsu, dan pelaku memakai nama lain ketika bekerja sebagai PMI di luar negeri.
Hal inilah yang membuatnya sulit ditangkap, karena setiap negara memiliki catatan identitas berbeda yang dipakai pelaku.
BNN menyebut Dewi kerap berpindah-pindah tempat tinggal dan menggunakan koneksi lokal untuk melindungi aktivitasnya selama pelarian.
Langkah Hukum Selanjutnya
Setibanya di Indonesia, Dewi langsung diperiksa terkait perannya sebagai pengendali jaringan narkotika internasional.
Penyidik menelusuri aliran dana, jalur distribusi, hingga kemungkinan keterlibatan pihak lain di Indonesia.
BNN memastikan akan membongkar seluruh rantai jaringan yang berhubungan dengan kasus sabu raksasa tersebut, termasuk kerja sama dengan otoritas luar negeri untuk penindakan lanjutan.
Kesimpulan
Penangkapan Dewi Astutik menjadi salah satu keberhasilan terbesar BNN dalam menindak jaringan narkoba internasional.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana sindikat narkotika bekerja melalui jalur lintas negara dengan identitas palsu dan sistem distribusi kompleks.
Operasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya koordinasi internasional untuk membongkar kejahatan terorganisir berskala besar seperti penyelundupan 2 ton sabu yang dikendalikan Dewi. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid