Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tanah Longsor Landa Sumut: Jalan Terputus, Rumah Rusak, Warga Butuh Bantuan

Nur Wachid • Jumat, 28 November 2025 | 20:25 WIB
Empat wilayah di Sumut dilanda tanah longsor, Pusdalops PB sebut dampaknya meluas dan butuh penanganan cepat. (Sumber: ANTARA/HO-Pusdalops Sumut)
Empat wilayah di Sumut dilanda tanah longsor, Pusdalops PB sebut dampaknya meluas dan butuh penanganan cepat. (Sumber: ANTARA/HO-Pusdalops Sumut)

Jawa Pos Radar Lawu - Sumatera Utara (Sumut) kembali dilanda bencana alam yang mengkhawatirkan. Hujan deras yang mengguyur sejak Senin pagi (24/11/2025) kemarin, memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.

Empat kabupaten terdampak paling parah adalah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Nias Selatan. Bencana ini menyebabkan akses jalan terputus, rumah-rumah rusak berat, dan ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara, longsor terjadi secara bersamaan di beberapa titik kritis.

Di Kota Sibolga, longsor menutup jalur utama menuju Padangsidimpuan, membuat distribusi logistik dan bantuan darurat terhambat.

Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Selatan, luapan Sungai Garoga menyebabkan banjir bandang yang menyapu rumah warga di Kecamatan Batangtoru dan Sipirok.

Kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Jalan nasional yang menghubungkan antar kabupaten mengalami keretakan dan ambles di beberapa titik.

Jembatan penghubung di Kecamatan Marancar dilaporkan roboh akibat tekanan air dan tanah yang labil.

Selain itu, puluhan rumah warga mengalami kerusakan berat, terutama di lereng-lereng bukit yang rawan longsor.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan lokal telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban.

Di beberapa lokasi, proses evakuasi terkendala oleh medan yang sulit dan cuaca yang belum bersahabat. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor, sementara dapur umum mulai didirikan di titik-titik pengungsian.

Jumlah korban jiwa terus bertambah. Berdasarkan laporan sementara, sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan tujuh lainnya masih dinyatakan hilang.

Sebagian besar korban berasal dari wilayah Sibolga dan Tapanuli Selatan, yang mengalami dampak paling parah.

Selain itu, puluhan warga mengalami luka-luka dan dirawat di fasilitas kesehatan darurat yang didirikan di lokasi pengungsian.

Kondisi pengungsian juga memprihatinkan. Ribuan warga yang terdampak kini tinggal di tenda-tenda darurat dengan fasilitas terbatas.

Kebutuhan mendesak meliputi makanan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan bayi. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.

BMKG menyatakan bahwa puncak musim hujan di wilayah Sumatera Utara diperkirakan berlangsung hingga awal Desember.

Potensi hujan lebat masih tinggi, sehingga risiko banjir dan longsor belum sepenuhnya reda. Pemerintah pusat melalui BNPB telah mengirimkan bantuan logistik dan personel tambahan untuk mempercepat penanganan darurat.

Di Kabupaten Nias Selatan, longsor menyebabkan terputusnya jalur komunikasi dan listrik di beberapa desa terpencil.

Tim teknis dari PLN dan Telkom telah dikerahkan untuk memulihkan jaringan, namun akses yang sulit membuat proses pemulihan berjalan lambat.

Warga di daerah ini mengandalkan radio komunikasi dan bantuan dari relawan untuk menyampaikan kondisi terkini.

Sementara itu, di Tapanuli Tengah, banjir merendam fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, dan pasar tradisional. Aktivitas ekonomi lumpuh total, dan warga terpaksa menghentikan kegiatan usaha mereka.

Pemerintah daerah berupaya menyalurkan bantuan modal usaha bagi warga terdampak agar roda ekonomi bisa kembali bergerak pasca-bencana.

Solidaritas masyarakat terlihat jelas dalam situasi ini. Sejumlah komunitas lokal, organisasi kemanusiaan, dan mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.

Media sosial juga dimanfaatkan untuk menggalang donasi dan menyebarkan informasi terkait kebutuhan mendesak di lokasi bencana.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah mengajukan permohonan bantuan tambahan ke pemerintah pusat, termasuk alat berat, logistik, dan dukungan psikososial bagi korban terdampak.

Selain itu, koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Langkah mitigasi jangka panjang juga mulai dirancang. Pemerintah daerah berencana melakukan relokasi warga dari zona rawan bencana ke lokasi yang lebih aman.

Selain itu, pembangunan tanggul dan sistem drainase akan dipercepat untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Edukasi kebencanaan juga akan digencarkan melalui sekolah dan komunitas lokal.

Situasi ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama di wilayah yang memiliki topografi rawan seperti Sumatera Utara.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan dan membangun ketahanan terhadap bencana di masa depan. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#sumut #rusak #jalan terputus #tanah longor