Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Teriakan Minta Tolong di Tengah Banjir dan Longsor di Tapanuli Tengah, Empat Korban Tewas Ribuan Rumah Terdampak!

Nur Wachid • Rabu, 26 November 2025 | 18:11 WIB
Banjir dan Longsor di Tapteng
Banjir dan Longsor di Tapteng

Jawa Pos Radar Lawu - Bencana yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah membuat situasi Tapteng Gempar dan memicu kepanikan warga.

Hujan deras memicu banjir di banyak wilayah hingga menggenangi permukiman.

Pada saat yang sama, material tanah yang labil menyebabkan longsor yang menutup akses jalan utama.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar di masyarakat, ada apa sebenarnya dengan kondisi alam Tapteng belakangan ini?

Fakta Utama

Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, dilanda bencana besar banjir dan longsor terjadi secara serentak sejak 23 hingga 25 November 2025, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa.

Setidaknya 4 warga tewas akibat longsor, dan ribuan rumah terdampak banjir.

Banjir dan longsor membuat banyak desa terendam, akses jalan nasional dan telekomunikasi terputus, serta memicu krisis komunikasi dan evakuasi warga.

Pemerintah daerah dan tim tanggap darurat telah menetapkan status darurat, menerjunkan tim evakuasi, serta menyiagakan dapur umum dan layanan kesehatan bagi korban.

Kronologi Singkat & Lokasi Terdampak

Hujan deras berkepanjangan sejak akhir November memicu meluapnya sungai dan derasnya arus air, menyebabkan banjir dan longsor di 9 titik wilayah Tapteng.

Banjir terjadi di banyak kecamatan: rumah dan jalan utama terendam air, beberapa wilayah seperti di Kecamatan Pandan, Sarudik, Barus, Kolang, dan Tukka terdampak berat.

Longsor terjadi di beberapa titik, termasuk di kecamatan Sitahuis (Desa Mardame) di mana satu keluarga ibu dan tiga anak dilaporkan tewas akibat rumah mereka tertimbun material longsor.

Infrastruktur vital seperti jalan utama (misalnya jalur Sibolga-Tarutung) tertutup longsoran dan sejumlah jembatan kecil rusak atau terancam ambruk, memutus akses transportasi dan logistik.

Dampak Luas: Korban, Pengungsi, dan Pemutusan Akses

Korban jiwa: 4 warga meninggal dunia pada satu lokasi longsor satu keluarga di Desa Mardame, Sitahuis.

Warga yang terdampak: ribuan rumah terendam air dan lumpur, diperkirakan mencapai 1.952 kepala keluarga (KK) di berbagai kecamatan.

Jaringan telekomunikasi dan listrik terputus di banyak titik; akses komunikasi dan bantuan sempat terhambat.

Infrastruktur umum dan transportasi terganggu: jalan nasional terputus, kendaraan dan logistik sulit melintas, distribusi bantuan tersendat.

Respon Pemerintah & Upaya Darurat

Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, telah melaporkan kondisi darurat ke Gubernur Sumatera Utara dan segera meminta pertolongan serta koordinasi penanganan.

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan diterjunkan ke lokasi terdampak.

Mereka melakukan evakuasi warga, distribusi logistik, mendirikan posko pengungsian, dan menyiapkan dapur umum serta layanan kesehatan darurat.

Pemantauan kondisi terus dilakukan, dengan fokus pada lokasi rawan longsor dan banjir susulan.

Baca Juga: Ada Apa Dengan Tukung? Inilah Rekomendasi Wisata Perbukitan Paling Hits di Brebes!

Pemerintah menghimbau masyarakat tetap siaga dan mengikuti instruksi evakuasi.

Mengapa Bencana Bisa Serentak? Faktor Penyebab & Konteks

Menurut data BPBD, hujan sangat deras dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama.

Intensitas hujan membuat sungai meluap dan tanah jenuh, meningkatkan risiko longsor.

Kombinasi topografi pesisir, lembah sungai, dan perbukitan di Tapteng menjadikan sejumlah titik sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.

Ahli menyebut bahwa perubahan penggunaan lahan seperti pembukaan lahan tanpa penguatan lereng serta kurangnya mitigasi bencana memperparah dampak saat hujan ekstrem.

Konteks & Implikasi Lebih Luas

Kejadian di Tapteng menjadi bagian dari rangkaian bencana musim hujan ekstrem yang melanda Sumatera dan wilayah pesisir barat Indonesia.

Dampak besar terhadap permukiman, infrastruktur, dan akses masyarakat memperlihatkan lemahnya kesiapsiagaan serta perlunya perbaikan tata ruang, sistem peringatan dini, dan mitigasi di daerah rawan bencana.

Kasus ini juga menunjukkan urgensi kebijakan adaptasi iklim dan rekayasa lingkungan mengingat curah hujan ekstrem diprediksi meningkat akibat perubahan iklim global.

Kesimpulan

Bencana banjir dan longsor serentak di Tapteng mengakibatkan kerusakan besar, korban jiwa, dan krisis kemanusiaan lokal.

Penetapan status darurat dan respon cepat dari pemda serta BPBD sangat krusial untuk pertolongan awal.

Namun kejadian ini juga menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat: pentingnya mitigasi risiko, penyusunan ulang tata ruang, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

Upaya bersama diperlukan agar tragedi serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang. (ghiska-mg-pnm/kid)

Editor : Nur Wachid
#tapanuli tengah #longsor #banjir #ada apa sebenarnya