Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Inovatif! Guru Balangan Ciptakan Aplikasi untuk Lestarikan Musik Kelong Dayak

Nur Wachid • Selasa, 25 November 2025 | 20:30 WIB
APLIKASI MERATUS: Donny Fadillah kenalkan musik kelong Dayak lewat aplikasi interaktif di kelas. (Sumber: Donny Fadillah/Radar Banjarmasin)
APLIKASI MERATUS: Donny Fadillah kenalkan musik kelong Dayak lewat aplikasi interaktif di kelas. (Sumber: Donny Fadillah/Radar Banjarmasin)

Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam era digital.

Namun, seorang guru di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, membuktikan bahwa teknologi justru bisa menjadi jembatan untuk menjaga warisan budaya.

Melalui inovasi aplikasi pembelajaran, musik kelong salah satu bentuk seni tradisional Dayak Halong kembali hidup dan menggema dari ruang kelas hingga ke layar gawai para pelajar.

Musik kelong merupakan bagian dari kekayaan budaya Dayak Halong, subetnis Dayak yang mendiami kawasan pegunungan Meratus. Musik ini dikenal dengan alunan khas yang mengiringi berbagai ritual adat dan kegiatan sosial masyarakat.

Namun, seiring waktu, eksistensinya mulai tergerus oleh perubahan zaman. Banyak generasi muda yang bahkan belum pernah mendengar atau mengenal alat musik tradisional seperti kanong dan kasapi, apalagi memahami makna filosofis di balik syair-syair kelong.

Melihat kondisi tersebut, Donny Fadillah, seorang guru Seni Budaya di SMPN Satu Atap Libaru Sungkai, Kecamatan Halong, mengambil langkah konkret.


Ia tidak hanya mengajarkan musik kelong secara konvensional di kelas, tetapi juga mengembangkan sebuah aplikasi digital yang memuat materi pembelajaran musik kelong secara interaktif.

Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk mendengarkan, mempelajari, dan bahkan memainkan musik kelong melalui fitur simulasi alat musik tradisional.

Langkah ini bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga bentuk nyata dari upaya pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dengan aplikasi tersebut, siswa tidak lagi bergantung pada kehadiran fisik alat musik yang jumlahnya terbatas. Mereka bisa belajar secara mandiri, kapan saja dan di mana saja, hanya dengan menggunakan ponsel pintar.

Implementasi aplikasi ini di ruang kelas pun mendapat sambutan positif. Suasana pembelajaran menjadi lebih hidup. Siswa yang sebelumnya kurang tertarik dengan pelajaran seni budaya kini menunjukkan antusiasme tinggi.

Mereka tidak hanya belajar memainkan musik kelong, tetapi juga memahami konteks budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Beberapa siswa bahkan mulai menciptakan aransemen baru dengan memadukan kelong dan musik modern, menciptakan harmoni antara tradisi dan inovasi.

Upaya Donny tidak berdiri sendiri. Ia juga menggandeng komunitas adat dan pelaku seni lokal untuk memastikan bahwa materi yang disajikan dalam aplikasi tetap otentik dan sesuai dengan nilai-nilai budaya Dayak Halong.

Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menjaga keaslian sekaligus memperluas jangkauan pelestarian budaya ke ranah digital.

Lebih jauh, inisiatif ini juga mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan komunitas pendidikan.

Potensi aplikasi ini untuk diadopsi di sekolah-sekolah lain di Kalimantan Selatan bahkan tengah dikaji. Jika berhasil, bukan tidak mungkin model serupa bisa diterapkan untuk pelestarian budaya lokal lainnya di Indonesia.

Konteks ini menjadi semakin relevan ketika melihat geliat masyarakat Dayak Meratus dalam menjaga tradisi mereka. Di berbagai desa seperti Tabuan dan Liyu, kegiatan adat seperti Aruh dan Mesiwah Pare Gumboh masih rutin digelar.

Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal regenerasi dan dokumentasi budaya. Di sinilah peran teknologi menjadi sangat penting bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi untuk memperkuat dan memperluas jangkauannya.

Aplikasi pembelajaran musik kelong ini juga menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa menjadi motor penggerak pelestarian budaya.

Ketika guru diberi ruang untuk berinovasi dan didukung oleh komunitas serta teknologi, maka pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga penjaga identitas budaya.

Lebih dari sekadar alat bantu belajar, aplikasi ini mencerminkan semangat baru dalam merawat warisan leluhur. Ia menjadi simbol bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu bersifat konservatif.

Justru dengan pendekatan kreatif dan adaptif, budaya lokal bisa tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat yang terus berubah.

Dengan semakin banyaknya inisiatif serupa, harapan untuk melihat generasi muda yang bangga dan akrab dengan budayanya sendiri bukanlah hal yang mustahil.

Musik kelong yang dulu hanya terdengar di balai adat, kini bisa dinikmati dan dipelajari di ruang kelas, di rumah, bahkan di mana saja. Sebuah langkah kecil dari Balangan, namun berdampak besar bagi masa depan budaya Indonesia. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#Balangan #guru #Dayak #Musik Kelong