Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kolaborasi OpenAI–Nvidia–Oracle di Proyek Stargate Dikritik: Pakar Yale Sebut Berpotensi Langgar Hukum Antitrust 135 Tahun AS

AA Arsyadani • Selasa, 25 November 2025 | 16:15 WIB

 

 

 

Clay Magouyrk (Oracle), Sam Altman (OpenAI), Vikas Parekh (SoftBank Investment Advisers), dan sejumlah pejabat menghadiri tur media pusat data AI Stargate di Abilene, Texas, September lalu.
Clay Magouyrk (Oracle), Sam Altman (OpenAI), Vikas Parekh (SoftBank Investment Advisers), dan sejumlah pejabat menghadiri tur media pusat data AI Stargate di Abilene, Texas, September lalu.

Jawa Pos Radar Lawu - Kolaborasi besar antara OpenAI, Nvidia, dan Oracle lewat Proyek Stargate kembali memicu sorotan tajam.

Seorang ahli hukum dari Yale memperingatkan bahwa aliansi teknologi bernilai ratusan miliar dolar AS itu dapat melanggar hukum antitrust Amerika Serikat yang telah berlaku lebih dari 135 tahun.

Menurut laporan Fortune, Senin (24/11/2025), Presiden Donald Trump mengumumkan Stargate sebagai usaha patungan senilai USD 500 miliar (sekitar Rp 8.360 triliun) untuk membangun infrastruktur AI terbesar di Amerika.

Hadir pula tiga tokoh sentral: Larry Ellison (Oracle), Sam Altman (OpenAI), dan Masayoshi Son (SoftBank).

Ellison menyebut Stargate akan “merevolusi kesehatan” dengan kemampuan integrasi data medis elektronik lintas negara. Altman menegaskan proyek ini sebagai “yang paling penting di era ini.”

OpenAI bahkan mengumumkan investasi awal USD 100 miliar untuk memulai operasi perusahaan baru tersebut.

Konsorsium ini juga melibatkan Microsoft, Nvidia, Arm, SoftBank, dan MGX dari Abu Dhabi.

Sorotan Pakar Yale: Potensi Pelanggaran Clayton Act & Sherman Act

Kontroversi mencuat dari draf kajian Madhavi Singh, peneliti Yale Law School.

Ia menilai Stargate berpotensi melanggar Clayton Act dan Sherman Act.

Yaitu, fondasi hukum antitrust Amerika yang sudah ada sejak abad ke-19.

Menurut Singh, Stargate berisiko memperkuat dominasi raksasa teknologi pada lapisan infrastruktur AI, mulai dari pusat data, GPU, hingga layanan cloud.

Saat ini saja, Amazon, Google, dan Microsoft menguasai sekitar 70% layanan cloud, sementara Nvidia memegang 80–95% pasar GPU.

Aliansi besar ini, menurut Singh, dapat “mengikis ruang kompetisi independen yang tersisa.”

Ia juga menilai Stargate berpotensi:

Meski berisiko memicu monopoli, Stargate belum mendapat perlawanan regulator.

Dalam sidang Senat AS bertema Winning the AI Race pada Mei 2025, isu antitrust bahkan tak disinggung sama sekali.

Baca Juga: Google Bantah Tuduhan Gunakan Gmail untuk Melatih Sistem AI

Musk Kritik Pedas Proyek Stargate

Di sisi lain, Elon Musk menjadi pengkritik paling vokal.

Ia menyindir Stargate sebagai proyek yang “tidak memiliki dana,” dan memposting meme satir tentang Altman serta rekan-rekannya memperlihatkan ketegangan terbuka di ekosistem AI global.

Ekspansi Tetap Berjalan

Terlepas dari kontroversi, OpenAI dan Oracle terus memperluas proyek.

Juli 2025, keduanya meneken pembangunan tambahan pusat data sebesar 4,5 gigawatt, dengan prediksi penciptaan lebih dari 100.000 lapangan kerja di AS.

Menurut Singh, kurangnya persaingan di sektor kunci seperti AI tidak hanya merugikan perusahaan kecil, tetapi juga konsumen dan inovasi jangka panjang.

Ia memperingatkan kemungkinan kenaikan harga, minimnya pilihan, hingga terhambatnya terobosan teknologi.

Jika analisisnya terbukti, Stargate dapat menjadi contoh pertama “kartelisasi AI besar-besaran” abad ke-21—sebuah ujian besar bagi regulasi persaingan global. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Proyek Stargate #openai #oracle #nvidia