Jawa Pos Radar Lawu - Beberapa hari belakangan, video yang memperlihatkan seorang ibu setelah persalinan dengan kondisi rahim yang tampak “keluar” menyebar luas di TikTok dan Instagram.
Fenomena ini kemudian disebut dalam jagat maya sebagai “rahim copot”.
Menurut penjelasan dr. Muhammad Fadli, SpOG, istilah “rahim copot” tidak tepat secara medis.
Ia menjelaskan bahwa kasus yang tampak seperti rahim melepas atau “copot” sesungguhnya adalah inversio uteri yaitu kondisi di mana rahim terbalik ke arah luar setelah plasenta belum keluar dan tali pusar ditarik secara paksa.
Apa yang Terjadi
1. Pada kasus yang viral, diceritakan bahwa persalinan berlangsung dengan intervensi oleh dukun beranak.
Video tersebut memperlihatkan penarikan tali pusar sebelum plasenta terlepas sepenuhnya.
2. Rahim tidak benar-benar terputus ataupun “copot”. Namun karena tarikan yang terlalu keras sebelum waktu tepat, rahim terdorong dan “terbalik” keluar hingga terlihat di luar vagina kondisi ini sangat darurat karena bisa menyebabkan perdarahan hebat.
3. Kasus ini menjadi sorotan literasi medis karena banyak orang cepat menyimpulkan “kutukan” atau mitos tanpa memahami aspek kesehatan dan prosedur persalinan yang aman.
Kiat untuk Ibu Hamil dan Keluarga
1. Pilih fasilitas persalinan yang memiliki tenaga medis kompeten (dokter kandungan atau bidan terlatih) dan fasilitas darurat untuk menangani komplikasi.
2. Hindari penarikan tali pusar secara paksa atau intervensi tidak profesional tanpa pengawasan medis karena dapat membahayakan ibu dan bayi.
3. Edukasi diri terhadap proses persalinan yang aman: pahami waktu plasenta seharusnya lepas, kondisi ibu stabil, dan adanya kesiapan tim medis jika terjadi komplikasi.
4. Jangan serta-merta percaya video viral atau konten sensasional gunakan sebagai pemicu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persalinan yang aman adalah proses yang memerlukan pengawasan medis dan prosedur yang tepat bukan sekadar ritual atau mitos. (ones-mg-PNM/kid)
Editor : Nur Wachid