Jawa Pos Radar Lawu - Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri terus memperkuat langkah-langkah strategis dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) melalui pendekatan berbasis komunitas. Salah satu upaya yang kini digencarkan adalah pelibatan aktif kader kesehatan di tingkat kelurahan dan RT/RW untuk mendeteksi dini, mengedukasi masyarakat, serta memastikan keberlanjutan pengobatan pasien TBC hingga sembuh.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot Kediri dalam menurunkan angka kasus TBC yang masih tinggi di wilayahnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Kediri, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat 1.372 kasus TBC. Menariknya, sekitar 50 persen dari kasus tersebut berasal dari luar daerah, menunjukkan bahwa Kota Kediri menjadi salah satu pusat rujukan dan mobilitas tinggi yang turut memengaruhi angka prevalensi.
Strategi Terpadu: TOSS TBC dan Kader Kesehatan
Program “Temukan, Obati Sampai Sembuh” (TOSS TBC) menjadi tulang punggung dalam strategi penanganan TBC di Kediri. Melalui program ini, kader kesehatan dilatih untuk melakukan skrining aktif di lingkungan masing-masing, mendampingi pasien dalam proses pengobatan, serta memberikan edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat selama minimal enam bulan.
Kader juga dibekali pengetahuan tentang gejala TBC, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan. Mereka menjadi ujung tombak dalam menjangkau kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan warga dengan kondisi sosial ekonomi rendah. Selain itu, kader berperan dalam mengidentifikasi kontak erat pasien TBC untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Digitalisasi Layanan
Pemkot Kediri tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi juga menggandeng berbagai pihak seperti tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, dan lembaga pendidikan untuk memperluas jangkauan edukasi. Kampanye kesehatan dilakukan melalui berbagai media, termasuk radio lokal, media sosial, dan kegiatan komunitas seperti car free day.
Digitalisasi layanan juga mulai diterapkan, di mana pelaporan kasus dan pemantauan pengobatan dilakukan melalui aplikasi berbasis web yang terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan daerah. Hal ini memudahkan koordinasi antar-puskesmas dan mempercepat proses intervensi.
Fokus pada Lingkungan Tertutup: Lapas dan Panti Sosial
Selain masyarakat umum, Pemkot Kediri juga menaruh perhatian khusus pada lingkungan tertutup seperti lembaga pemasyarakatan (lapas) dan panti sosial. Pada awal November 2025, dilakukan skrining aktif terhadap ratusan warga binaan di Lapas Kelas II A Kediri. Pemeriksaan dilakukan secara bergantian selama empat hari untuk memastikan tidak ada kasus TBC yang luput dari deteksi.
Langkah ini penting mengingat lingkungan tertutup memiliki risiko penularan yang lebih tinggi akibat kepadatan dan sirkulasi udara yang terbatas. Pemeriksaan rutin dan edukasi kepada warga binaan menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan aman.
Tantangan: Mobilitas Penduduk dan Kepatuhan Pengobatan
Salah satu tantangan utama dalam penanganan TBC di Kediri adalah mobilitas penduduk yang tinggi. Banyak pasien yang berasal dari luar kota, sehingga proses pelacakan dan pemantauan pengobatan menjadi lebih kompleks. Dinas Kesehatan Kota Kediri terus berkoordinasi dengan daerah asal pasien untuk memastikan keberlanjutan pengobatan.
Kepatuhan minum obat juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak pasien yang merasa sembuh setelah beberapa minggu dan menghentikan pengobatan, padahal TBC membutuhkan terapi jangka panjang. Kader kesehatan berperan penting dalam memberikan motivasi dan pendampingan agar pasien tidak putus obat.
Target 2026: Cakupan Deteksi 90 Persen
Wali Kota Kediri menegaskan bahwa target cakupan deteksi dan pengobatan TBC di Kota Kediri harus mencapai 90 persen pada tahun 2026. Saat ini, capaian masih berada di angka 65 persen, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur per Oktober 2025. Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Kediri akan menambah jumlah kader kesehatan, memperluas skrining aktif, dan meningkatkan kapasitas laboratorium pemeriksaan dahak.
Selain itu, akan dilakukan pelatihan lanjutan bagi tenaga kesehatan dan kader untuk mengenali kasus TBC resisten obat (RO), yang membutuhkan penanganan lebih kompleks dan pengobatan lebih lama.
Harapan: Kediri Bebas TBC 2030
Dengan strategi terpadu dan kolaborasi lintas sektor, Pemkot Kediri menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030. Upaya ini sejalan dengan target nasional dan global dalam mengakhiri epidemi TBC sebagai ancaman kesehatan masyarakat. Peran aktif masyarakat, kepatuhan pasien, dan dukungan pemerintah menjadi kunci utama dalam mewujudkan Kediri bebas TBC. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid