Jawa Pos Radar Lawu - Polisi ungkap motif ledakan di SMAN 72 Jakarta yang menggemparkan publik pekan ini.
Pelaku remaja 17 tahun mengaku merasa sendirian dan tak punya teman curhat, hingga terobsesi membuat bahan peledak dari internet.
Pihak kepolisian menegaskan motif pelaku bukan terkait terorisme, melainkan faktor psikologis dan rasa terisolasi di lingkungan sekolah.
Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta ini membuka perhatian luas soal pentingnya dukungan sosial dan kesehatan mental remaja.
Kronologi dan Pengungkapan Awal
Kepolisian mengungkap pelaku merupakan siswa kelas XI berusia 17 tahun di SMAN 72 Jakarta yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Insiden terjadi Jumat (4 November 2025) di area masjid sekolah saat persiapan Salat Jumat, menimbulkan ledakan keras dan melukai lebih dari 50 siswa serta guru.
Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengaku merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, sehingga mencari pelampiasan melalui eksperimen berbahaya.
“Pelaku ini lebih kepada anak yang tertutup, sering sendiri, dan mencoba hal-hal ekstrem dari tontonan daring,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto.
Motif dan Kondisi Psikologis Pelaku
Polisi menegaskan bahwa motif ledakan di SMAN 72 Jakarta bukan karena faktor ideologi atau jaringan teror.
Pelaku diketahui terinspirasi dari video pembuatan bahan peledak di luar negeri yang ditontonnya melalui media sosial.
Dalam interogasi, pelaku mengatakan ingin “mencoba hal baru” tanpa bermaksud melukai teman sekolahnya.
Namun, tindakan itu justru menimbulkan kepanikan dan menyebabkan puluhan siswa luka-luka.
Pihak kepolisian bekerja sama dengan psikolog anak dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk melakukan pemeriksaan kejiwaan.
“Ini adalah bentuk pelampiasan dari rasa tidak punya tempat untuk berbagi. Pelaku merasa diabaikan di sekolah,” ujar perwakilan Bareskrim Polri.
Proses Hukum dan Langkah Pencegahan
Meski tergolong masih di bawah umur, polisi memastikan proses hukum tetap berjalan sesuai UU Sistem Peradilan Anak.
Barang bukti berupa bahan peledak rakitan, ponsel, dan catatan percobaan diamankan dari rumah pelaku.
Kasus ini dijadikan evaluasi oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar sekolah memperkuat sistem bimbingan konseling dan pengawasan perilaku siswa.
Kepala SMAN 72 Jakarta menyampaikan, “Kami tidak menyangka anak yang terlihat pendiam bisa melakukan hal seperti ini. Kami berkomitmen memperkuat pendekatan emosional terhadap siswa.”
Pengungkapan motif ledakan di SMAN 72 Jakarta yang dipicu oleh rasa kesepian dan ketiadaan teman curhat menjadi pengingat penting bagi masyarakat.
Masalah mental dan perasaan terisolasi bisa berkembang menjadi tindakan berbahaya bila tak mendapat perhatian.
Polisi kini terus mendalami kasus ini sambil memberikan pendampingan psikologis bagi pelaku dan para korban agar kejadian serupa tak terulang. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid