Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 di Banyuwangi Serap Ribuan Pengunjung, Simbol Kearifan Lokal dan Daya Tarik Wisata Budaya Osing

Nur Wachid • Rabu, 12 November 2025 | 20:55 WIB
Kapolresta Banyuwangi Ngopi Bersama Ribuan Warga di Festival Sepuluh Ewu. (Sumber: Radar Banyuwangi)
Kapolresta Banyuwangi Ngopi Bersama Ribuan Warga di Festival Sepuluh Ewu. (Sumber: Radar Banyuwangi)

Jawa Pos Radar Lawu - Ribuan pengunjung memadati Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, dalam gelaran tahunan Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 yang berlangsung Sabtu malam (8/11/2025).

Festival ini kembali menjadi magnet wisata budaya yang mengangkat tradisi minum kopi khas masyarakat Osing, sekaligus memperkuat identitas lokal dan solidaritas warga.

Sejak pertama kali digelar pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu telah menjelma menjadi ikon budaya Banyuwangi. Tahun ini, antusiasme masyarakat dan wisatawan meningkat signifikan.

Jalan utama desa ditutup total dan disulap menjadi ruang publik terbuka yang dipenuhi meja-meja kayu panjang, tempat ribuan cangkir kopi disajikan secara gratis kepada pengunjung.

Lebih dari 10.000 cangkir kopi robusta khas Banyuwangi dibagikan malam itu. Kopi tersebut berasal dari para pelaku UMKM lokal yang tergabung dalam komunitas petani kopi dan pengusaha kecil di wilayah Banyuwangi.

Bubuk kopi dikemas dalam takaran kecil dan disebar ke rumah-rumah warga di sepanjang jalur utama desa, yang kemudian menyeduh dan menyuguhkannya kepada tamu festival. Tradisi ini mencerminkan nilai luhur masyarakat Osing dalam menyambut tamu dengan keramahan dan kehangatan.

Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Festival (B-Fest), yang setiap tahunnya menampilkan puluhan agenda budaya, seni, dan pariwisata. Dalam konteks ini, Ngopi Sepuluh Ewu bukan hanya sekadar pesta rakyat, melainkan juga strategi promosi budaya dan ekonomi kreatif yang terintegrasi.

Suasana malam festival terasa hangat dan akrab. Pengunjung dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara, tampak menikmati kopi sambil berbincang santai di bawah lampu-lampu gantung yang menghiasi jalan desa.

Musik tradisional Osing dan pertunjukan seni rakyat turut memeriahkan suasana. Anak-anak berlarian di antara meja, sementara para orang tua menyambut tamu dengan senyum ramah dan cangkir-cangkir keramik warisan keluarga.

Keunikan festival ini terletak pada partisipasi aktif warga. Setiap rumah di sepanjang jalan utama menjadi tuan rumah bagi pengunjung. Mereka tidak hanya menyuguhkan kopi, tetapi juga memperkenalkan budaya Osing melalui cerita, makanan ringan tradisional, dan dekorasi rumah yang khas. Hal ini menciptakan pengalaman wisata yang otentik dan membangun koneksi emosional antara tamu dan tuan rumah.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan festival ini. Selain sebagai ajang pelestarian budaya, festival ini juga terbukti memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Homestay, warung makan, toko oleh-oleh, dan jasa transportasi lokal mengalami lonjakan permintaan selama akhir pekan festival. UMKM kopi lokal pun mendapatkan panggung untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga menjadi ruang edukasi budaya. Pengunjung dapat belajar tentang sejarah kopi di Banyuwangi, teknik penyeduhan tradisional, serta filosofi di balik tradisi ngopi dalam masyarakat Osing. Beberapa stan edukatif disiapkan oleh komunitas budaya dan pelaku wisata lokal untuk memperkaya pengalaman pengunjung.

Tahun ini, Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga menjadi momentum penting karena Desa Kemiren baru saja meraih dua penghargaan internasional di bidang pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal yang dijaga dengan konsisten dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun citra positif daerah di mata dunia.

Kehadiran festival ini juga memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia. Dengan mengusung konsep “pariwisata yang membumi”, Banyuwangi berhasil menggabungkan kekayaan tradisi dengan inovasi penyelenggaraan event yang menarik dan inklusif. Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan nilai aslinya.

Sebagai bagian dari strategi promosi digital, festival ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Tagar #NgopiSewu2025 dan #KemirenHeritage menjadi trending di platform lokal, memperluas jangkauan promosi hingga ke luar negeri. Banyak pengunjung yang membagikan pengalaman mereka melalui foto dan video, memperlihatkan suasana hangat dan autentik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Dengan keberhasilan tahun ini, Festival Ngopi Sepuluh Ewu diproyeksikan akan terus berkembang dan menjadi agenda budaya nasional yang mampu menarik lebih banyak wisatawan. Pemerintah daerah bersama komunitas lokal berkomitmen untuk menjaga kualitas penyelenggaraan dan memperluas dampak positifnya, baik secara ekonomi maupun sosial.

Sebagai penutup, Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 bukan hanya tentang kopi. Ia adalah tentang identitas, tentang kebersamaan, dan tentang bagaimana sebuah desa kecil di kaki Gunung Ijen mampu menginspirasi dunia dengan secangkir keramahan. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#wisata budaya #Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 #banyuwangi #osing