Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Rumah Nenek Sarina Ambruk Dihantam Longsor, 9 Keluarga Terisolasi di Kaliwates Jember

Nur Wachid • Rabu, 12 November 2025 | 21:30 WIB
Bencana longsor di bantaran sungai Kaliwates merobohkan satu rumah warga, memicu kepanikan pada Minggu siang (9/11/2025). (Sumber: ANTARA)
Bencana longsor di bantaran sungai Kaliwates merobohkan satu rumah warga, memicu kepanikan pada Minggu siang (9/11/2025). (Sumber: ANTARA)

Jawa Pos Radar Lawu - Bencana tanah longsor yang melanda Kelurahan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Minggu siang (9/11/2025), menyisakan duka dan ketidakpastian bagi warga terdampak.

Rumah milik seorang lansia bernama Sarina (75) ambruk total setelah tanah di bantaran Sungai Kaliwates terkikis akibat hujan deras yang mengguyur sejak dini hari. Tak hanya itu, sembilan keluarga lainnya kini terisolasi karena akses jalan setapak satu-satunya menuju pemukiman mereka terputus.

Peristiwa ini terjadi di Jalan Imam Bonjol Nomor 70, RT 002/RW 001, Kelurahan Kaliwates, sekitar pukul 13.15 WIB. Menurut laporan lapangan, suara retakan tanah sempat terdengar sebelum rumah Sarina roboh. Warga sekitar segera membantu proses evakuasi mandiri, mengingat kondisi medan yang sulit dijangkau oleh kendaraan berat maupun tim penyelamat.

Hujan intens yang berlangsung selama lebih dari 10 jam menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. Arus sungai yang meluap menggerus tebing dan pondasi rumah-rumah yang berada di sepanjang bantaran.

Dampaknya, satu rumah ambruk dan sembilan lainnya terancam karena posisi tanah yang sudah tidak stabil. Warga yang terisolasi kini mengandalkan bantuan dari tetangga dan relawan untuk memenuhi kebutuhan harian seperti air bersih, makanan, dan obat-obatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan asesmen dan pengamanan area longsor. Namun, keterbatasan akses membuat proses penanganan darurat berjalan lambat. Jalan setapak yang menjadi satu-satunya jalur keluar masuk kini tertutup material longsor berupa tanah, batu, dan sisa bangunan.

Salah satu tantangan utama adalah kondisi geografis yang sempit dan padat penduduk. Rumah-rumah di kawasan tersebut dibangun berdekatan dengan sungai, tanpa pengaman tebing yang memadai. Beberapa warga menyebut bahwa retakan tanah sudah mulai terlihat sejak sepekan sebelumnya, namun belum ada tindakan antisipatif dari pihak terkait.

Sementara itu, relawan dari berbagai komunitas lokal mulai berdatangan untuk membantu proses evakuasi dan distribusi logistik. Mereka membawa peralatan ringan seperti cangkul, karung pasir, dan tali untuk membantu warga menyeberang ke area yang lebih aman. Beberapa keluarga memilih mengungsi ke rumah kerabat di luar Kaliwates, sementara sisanya tetap bertahan dengan harapan bantuan segera datang.

Pemerintah Kabupaten Jember menyatakan akan segera membangun jalur alternatif dan memperkuat tebing sungai untuk mencegah longsor susulan. Selain itu, pendataan terhadap warga terdampak juga dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Tim medis dari Puskesmas Kaliwates juga telah diterjunkan untuk memantau kondisi kesehatan warga, terutama lansia dan anak-anak.

Kondisi rumah Sarina yang ambruk total menjadi simbol betapa rentannya pemukiman di bantaran sungai terhadap bencana hidrometeorologi. Rumah tersebut diketahui telah berdiri selama lebih dari 40 tahun dan menjadi tempat tinggal tiga generasi. Kini, reruntuhan bangunan itu menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana dan penataan ruang yang lebih aman.

Dalam beberapa hari ke depan, BPBD Jember bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan kajian teknis untuk menentukan langkah pemulihan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah relokasi warga ke tempat yang lebih aman, terutama bagi mereka yang rumahnya berada di zona merah rawan longsor.

Bencana ini juga memicu solidaritas warga Jember. Sejumlah komunitas pemuda, organisasi keagamaan, dan kelompok sosial mulai menggalang dana dan logistik untuk membantu korban. Mereka mendirikan posko bantuan di sekitar lokasi longsor dan membuka jalur komunikasi dengan pihak berwenang.

Kawasan Kaliwates sendiri dikenal sebagai daerah padat penduduk dengan infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai. Kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mempercepat program penataan kawasan rawan bencana dan memperkuat sistem peringatan dini.

Hingga Selasa pagi (11/11/2025), proses pembersihan material longsor masih berlangsung. Alat berat belum bisa masuk karena sempitnya akses, sehingga warga dan relawan mengandalkan tenaga manual. Beberapa titik longsor juga masih aktif, sehingga petugas meminta warga untuk tetap waspada dan tidak mendekati tebing sungai.

Kondisi cuaca di Jember diperkirakan masih akan hujan dalam beberapa hari ke depan. Hal ini meningkatkan risiko longsor susulan, terutama di wilayah dengan kontur tanah yang labil. BPBD mengimbau warga untuk segera melaporkan jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau retakan baru di sekitar rumah mereka.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah daerah berencana membentuk tim khusus untuk memetakan seluruh kawasan rawan longsor di Kabupaten Jember. Tim ini akan bekerja sama dengan akademisi, komunitas lokal, dan lembaga swadaya masyarakat untuk menyusun strategi mitigasi berbasis partisipasi warga. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#Sarina #longsor #Kaliwates #ambruk #rumah #jemeber