Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengenal Suku Anak Dalam: Kehidupan, Budaya, dan Tantangan Komunitas Adat di Hutan Sumatra

Winarsih • Senin, 10 November 2025 | 23:32 WIB
Suku Anak Dalam sering pula disebut Orang Rimba
Suku Anak Dalam sering pula disebut Orang Rimba

Jawa Pos Radar Lawu - Di tengah lebat dan sunyinya hutan dataran rendah Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan, terdapat sebuah komunitas adat yang dikenal sebagai Suku Anak Dalam sering pula disebut Orang Rimba. 

Mereka adalah orang yang memilih hidup berdampingan dengan alam, jauh dari keramaian pemukiman umum. 

Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, mereka merupakan keturunan yang memilih menyingkir ke rimba untuk menjaga gaya hidup yang berbeda dari masyarakat luar.

Pola hidup Suku Anak Dalam sangat erat dengan alam hutan: mereka berburu binatang, meramu hasil hutan seperti madu dan rotan, dan menanam secara kecil-kecilan untuk menopang kebutuhan hidup sehari hari. 

Tinggal mereka kerap berpindah‐pindah atau semi-nomaden, terutama saat tradisi adat seperti melangun yang dilakukan dalam rangka kematian anggota keluarga atau menghindari ‘kesialan’ menuntut pemindahan lokasi. 

Tempat tinggal mereka sederhana, pondok kayu dengan dinding dan atap yang sesuai dengan lingkungan alami.

Dalam struktur sosial mereka, kepemimpinan tradisional seperti tumenggung memegang peranan penting, dan adat‐istiadat berupa ritual, sistem kekerabatan.

Serta kepercayaan terhadap roh leluhur tetap hidup meskipun sebagian mulai menerima agama resmi seperti Islam atau Kristen. 

Kepercayaan animisme masih menjadi akar kuat dalam kehidupan kolektif mereka.

Di sisi lain, komunitas ini menghadapi tantangan besar di era modern. 

Hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka terdesak oleh alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit, tambang, dan pembangunan infrastruktur. 

Tekanan ini mengganggu akses mereka terhadap sumber pangan, mengikis ruang hidup tradisional, dan merusak keberlanjutan budaya mereka. 

Kondisi terpencil membuat layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan pengakuan hak atas tanah adat sering sulit dijangkau.

Namun di tengah semua itu, muncul harapan. Anak-anak dan generasi muda Suku Anak Dalam mulai menunjukkan keinginan untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia luar sambil tetap menjaga identitas mereka.

Institusi seperti “Sokola Rimba” hadir untuk mendekatkan pendidikan kepada komunitas ini, dan sejumlah program pemberdayaan serta advokasi hak adat telah dijalankan oleh lembaga non-pemerintah dan pemerintah daerah. 

Semua upaya ini menegaskan bahwa pelestarian budaya dan pengakuan hak bukan hanya soal memelihara warisan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan dan martabat komunitas. 

Memahami Suku Anak Dalam berarti memahami pilihan hidup yang bersandar pada keutuhan alam dan solidaritas komunitas, sekaligus menyadari kerentanan yang muncul saat modernitas mengetuk pintu. 

Mendukung mereka bukan sekadar memberikan bantuan material, melainkan juga pengakuan terhadap identitas, hak, dan martabat mereka agar mereka dapat bertahan dengan penuh kehormatan di dunia yang terus berubah.(win)

Editor : Riana M.
#kehidupan tradisional #suku anak dalam #asal usul #Orang Rimba #hutan Sumatra #pola hidup