Jawa Pos Radar Lawu – Generasi Z lahir di era digital, jauh dari dentuman perang dan pengorbanan fisik yang dialami pahlawan masa lalu. Namun, makna kepahlawanan tetap hidup, meski dengan cara berbeda.
Bagi Aprilia Devi (22), jurnalis muda asal Sidoarjo, menuturkan, perjuangan Gen Z hadir melalui kehidupan sehari-hari: mencari kerja, belajar, dan bertahan menghadapi tekanan sosial.
“Sekarang cari kerja susah, hidup juga naik turun. Tetapi banyak anak muda tetap semangat buat berkembang. Itu juga bentuk kepahlawanan,” tuturnya kepada JawaPos.com, Jumat (7/11).
Anas Audah (15), pelajar SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, menambahkan, kepahlawanan kini bukan melawan penjajah, tetapi melawan rasa malas dan berani bersuara meski tak populer.
Namun, tidak semua Gen Z memahami makna ini.
Isnaini Lu’lu’ Atim Muthoharoh (26), asisten dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, menilai peringatan Hari Pahlawan sering dijadikan formalitas, sekadar ikut tren di media sosial.
Ia menekankan pentingnya pendidikan sejarah yang menyenangkan agar generasi muda memahami nilai perjuangan.
Aprilia menambahkan, peringatan Hari Pahlawan bisa dikemas lebih fun, seperti festival, konten kreatif, dan kampanye digital, sehingga semangat kepahlawanan tetap hidup di kalangan Gen Z.
Bagi generasi muda, pahlawan tak selalu sosok sejarah.
Guru yang sabar, teman yang peduli, mahasiswa yang menyuarakan keadilan, hingga konten kreator yang berani bersuara bisa menjadi pahlawan modern.
Aprilia mengidolakan Kartini, Anas kagum pada Bung Tomo, dan Isnaini mengagumi Nyi Ageng Serang.
Sementara Ali Zaenal Abidin (20), mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma, mengagumi BJ Habibie.
Semangat kepahlawanan bagi Gen Z mungkin tidak terdengar lantang, tetapi tetap hidup melalui perjuangan pribadi, bertahan menghadapi tuntutan zaman, dan berani bermimpi.
“Kota Surabaya mengajarkan kalau berjuang tidak harus besar, bisa dari diri sendiri,” imbuhnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani