Jawa Pos Radar Lawu - Tragedi yang menimpa enam mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, telah mengguncang publik dan memicu gelombang duka nasional.
Peristiwa memilukan ini terjadi Selasa (4/11/2025), ketika para mahasiswa terlibat dalam kegiatan wisata air di Sungai Genting Jolinggo, yang berujung pada insiden hanyutnya enam peserta KKN.
Tiga mahasiswa ditemukan meninggal dunia pada hari pertama pencarian, sementara tiga lainnya sempat dinyatakan hilang. Pencarian intensif oleh tim SAR gabungan, BPBD Kendal, dan relawan akhirnya berhasil menemukan korban terakhir, Nabila Yulian Dessi Pramesti (21), pada malam hari (5/11/2025). Dengan ditemukannya seluruh korban, posko pencarian resmi ditutup Kamis pagi, (6/11/2025).
Kronologi Kejadian: Wisata Air Berujung Petaka
Kegiatan tubing yang dilakukan oleh para mahasiswa KKN di Sungai Genting awalnya merupakan bagian dari program pengenalan potensi wisata lokal. Namun, derasnya arus sungai dan minimnya pengawasan keselamatan menyebabkan enam mahasiswa terseret arus. Sungai Genting yang dikenal memiliki kontur berbatu dan arus tak menentu, menjadi lokasi yang berisiko tinggi, terutama saat musim hujan.
Menurut laporan lapangan, para mahasiswa tidak mengenakan pelampung dan tidak didampingi oleh pemandu profesional saat melakukan aktivitas tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai standar keamanan dalam pelaksanaan KKN, terutama yang melibatkan kegiatan luar ruang dan wisata alam.
Identitas Korban dan Reaksi Keluarga
Berikut identitas lengkap enam korban beserta waktu penemuan jenazahnya:
1. M. Labib Riqi
- Asal: Jepara
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Ditemukan: Selasa, 4 November 2025 pukul 17.00 WIB
- Lokasi: Sungai Genting Jolinggo, Kendal
2. Rizka Amelia
- Asal: Semarang
- Jenis Kelamin: Perempuan
- Ditemukan: Selasa, 4 November 2025 pukul 17.00 WIB
- Lokasi: Bersama Labib di lokasi tubing
3. Syifa Nadila
- Asal: Demak
- Jenis Kelamin: Perempuan
- Ditemukan: Selasa, 4 November 2025 pukul 17.00 WIB
- Lokasi: Sungai Genting Jolinggo
4. Bima Pranawira
- Asal: Gresik
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Ditemukan: Rabu, 5 November 2025 pukul 08.45 WIB
- Lokasi: Sekitar lokasi kejadian
5. Muhammad Jibril Asyarofi
- Asal: Jepara
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Ditemukan: Rabu, 5 November 2025 pukul 09.30 WIB
- Lokasi: Tidak jauh dari titik tubing
6. Nabila Yulian Dessi Pramesti
- Asal: Bojonegoro
- Jenis Kelamin: Perempuan
- Ditemukan: Rabu, 5 November 2025 pukul 21.50 WIB
- Lokasi: Desa Banyuringin, sekitar 9–10 km dari lokasi kejadian
Keluarga korban menyampaikan kesedihan mendalam atas kehilangan anak-anak mereka yang tengah menjalankan tugas akademik dan pengabdian. Prosesi pemulangan jenazah dilakukan dengan pengawalan dari pihak kampus dan pemerintah daerah.
Di Jepara, Gresik, Bojonegoro, Semarang, dan Demak, suasana duka menyelimuti rumah para korban. Warga sekitar turut hadir dalam prosesi pemakaman dan menyampaikan doa serta dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
Evaluasi Sistem KKN dan Tuntutan Perubahan
Pasca tragedi, pihak Rektorat UIN Walisongo menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaksanaan KKN. Fokus utama evaluasi mencakup aspek keamanan, mitigasi risiko, dan pemetaan potensi bahaya di lokasi KKN.
Selain itu, kampus juga berencana memperketat prosedur izin kegiatan luar ruang dan mewajibkan pendampingan profesional dalam aktivitas wisata atau eksplorasi alam.
Tragedi ini juga memicu diskusi nasional mengenai perlunya regulasi terpadu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama terkait pelaksanaan KKN lintas kampus.
Banyak akademisi dan aktivis pendidikan menilai bahwa KKN selama ini terlalu longgar dalam pengawasan, terutama di daerah terpencil atau lokasi wisata yang belum memiliki standar keselamatan yang memadai.
Sorotan Terhadap Wisata Alam Tanpa Standar Keselamatan
Tragedi ini membuka kembali perdebatan mengenai wisata alam di daerah yang belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) keselamatan. Sungai Genting Jolinggo, meski memiliki potensi wisata tubing dan arung jeram, belum dilengkapi dengan fasilitas keselamatan seperti pelampung, pemandu bersertifikat, dan sistem peringatan dini.
Pemerintah Kabupaten Kendal menyatakan akan segera melakukan audit terhadap seluruh destinasi wisata alam di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk mencegah kejadian serupa dan memastikan bahwa wisatawan, termasuk mahasiswa KKN, dapat beraktivitas dengan aman.
Solidaritas Pesantren dan Komunitas Santri
Sebagai kampus berbasis Islam, UIN Walisongo memiliki ikatan kuat dengan komunitas pesantren dan santri di berbagai daerah. Tragedi ini juga memicu solidaritas dari kalangan pesantren yang menggelar doa bersama dan tahlil untuk para korban. Beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan menyatakan siap membantu keluarga korban secara moral dan spiritual.
Solidaritas ini menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan seperti ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama komunitas yang memiliki kedekatan nilai dan visi dengan kampus Islam negeri.
Langkah Lanjutan: Audit Nasional dan Reformasi KKN
Menyusul tragedi ini, sejumlah kampus di Indonesia mulai melakukan audit internal terhadap program KKN mereka. Beberapa kampus bahkan menunda pelaksanaan KKN di lokasi wisata alam hingga SOP keselamatan diperbarui.
Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan diharapkan segera mengeluarkan pedoman nasional terkait pelaksanaan KKN yang aman dan bertanggung jawab.
Tragedi Sungai Kendal menjadi pengingat bahwa pengabdian masyarakat tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan. Mahasiswa sebagai agen perubahan harus dilindungi, bukan dibiarkan menghadapi risiko tanpa perlindungan yang memadai. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid