Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Sulawesi Utara Terancam Cuaca Ekstrem 3–5 November 2025, BMKG Minta Warga Siaga!

Nur Wachid • Rabu, 5 November 2025 | 20:45 WIB
Ilustrasi angin kencang (Sumber: Istimewa)
Ilustrasi angin kencang (Sumber: Istimewa)

Jawa Pos Radar Lawu - Memasuki awal November 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang mengancam wilayah Sulawesi Utara.

Berdasarkan laporan resmi BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang diprediksi akan melanda sejumlah kabupaten dan kota di provinsi ini mulai Senin, 3 November hingga Rabu, 5 November 2025.

Dinamika Atmosfer yang Aktif

BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang cukup aktif menjadi pemicu utama kondisi cuaca ekstrem ini. Gangguan fenomena atmosfer seperti siklon tropis dan pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian timur menyebabkan terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi menurunkan hujan dengan intensitas tinggi.

Astrid Y. Langi, Koordinator Bidang Operasional BMKG Sam Ratulangi Manado, menyebutkan bahwa wilayah yang paling berisiko meliputi pesisir Manado, Minahasa Utara, Bitung, dan sebagian wilayah pegunungan di Minahasa Selatan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi di perairan sekitar,” ujarnya.

Wilayah-Wilayah yang Berpotensi Terdampak

Berikut adalah beberapa wilayah yang masuk dalam kategori siaga berdasarkan pemantauan BMKG:

- Manado dan sekitarnya: Potensi hujan lebat disertai angin kencang dan kilat.

- Minahasa Selatan: Risiko tanah longsor di daerah lereng bukit dan pegunungan.

- Bitung dan Likupang: Gelombang tinggi dan angin laut yang berbahaya bagi nelayan.

- Tomohon dan Tondano: Genangan air dan gangguan aktivitas harian akibat hujan deras.

BMKG juga mencatat bahwa suhu permukaan laut di sekitar Sulawesi Utara mengalami peningkatan, yang turut memperkuat pembentukan awan hujan. Hal ini menjadi perhatian khusus karena dapat memperpanjang durasi hujan dan memperluas wilayah terdampak.

Dampak Potensial dan Imbauan BMKG

BMKG menekankan bahwa dampak dari cuaca ekstrem ini tidak hanya terbatas pada gangguan aktivitas harian, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian material dan korban jiwa jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk:

- Menghindari aktivitas di luar ruangan saat hujan lebat dan angin kencang.

- Tidak berteduh di bawah pohon atau baliho saat terjadi kilat dan petir.

- Menjauh dari daerah aliran sungai dan lereng bukit yang rawan longsor.

- Nelayan dan pengguna transportasi laut diminta menunda pelayaran sementara waktu.

Pemerintah daerah juga telah diminta untuk mengaktifkan posko siaga bencana dan memperkuat koordinasi dengan BPBD serta aparat desa untuk memantau kondisi lapangan secara real-time.

Respons Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Di Manado, sejumlah warga mulai melakukan langkah antisipatif seperti membersihkan saluran air, memperkuat atap rumah, dan menyiapkan perlengkapan darurat.

Sementara itu, Pemerintah Kota Bitung telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh camat dan lurah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan patroli lingkungan.

“Langkah ini penting agar kita tidak hanya bereaksi saat bencana terjadi, tetapi juga mampu mencegah dampak yang lebih besar,” ujar Kepala BPBD Bitung, Ronald Mamesah.

Di Minahasa Selatan, aparat desa mulai mendata warga yang tinggal di daerah rawan longsor untuk kemungkinan relokasi sementara jika intensitas hujan terus meningkat.

Baca Juga: 4 Jenis Bansos Cair November 2025: Cek KKS Lama & Baru, Saldo BLT Kesra, BPNT, PIP, dan Atensi YAPI Sudah Masuk!

Peran Teknologi dan Informasi

BMKG mengajak masyarakat untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam memantau perkembangan cuaca. Aplikasi Info BMKG dan kanal media sosial BMKG menjadi sumber informasi yang cepat dan akurat. Selain itu, masyarakat juga dapat mengakses peta sebaran hujan dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG.

“Informasi yang tepat waktu bisa menyelamatkan nyawa. Kami harap masyarakat aktif memantau dan menyebarkan informasi resmi,” kata Astrid Y. Langi.

Refleksi: Pentingnya Edukasi Mitigasi Bencana

Cuaca ekstrem yang berulang setiap tahun menjadi pengingat bahwa edukasi mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya masyarakat. Sekolah, komunitas, dan lembaga keagamaan dapat berperan aktif dalam menyebarkan pengetahuan tentang cara bertindak saat terjadi bencana.

Kegiatan simulasi evakuasi, pelatihan pertolongan pertama, dan penyusunan rencana darurat keluarga adalah langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan. Dengan edukasi yang merata, masyarakat akan lebih tangguh menghadapi ancaman cuaca ekstrem di masa depan. (husnul-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#Ekstrem #Sulawesi utara #bmkg #cuaca