Jawa Pos Radar Lawu - Tragedi ambruknya atap asrama putri Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani di Besuki, Kabupaten Situbondo, menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah Jawa Timur untuk memperkuat sistem mitigasi bencana di lingkungan pesantren.
Insiden yang terjadi pada Rabu dini hari, (29/10/2025), menewaskan satu santriwati dan melukai belasan lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur (Jatim), Gatot Soebroto, menyampaikan duka mendalam atas musibah tersebut. Ia menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan bangunan pesantren, terutama yang berada di wilayah rawan bencana.
"Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga besar Ponpes Salafiyah Syafi'iyyah, Besuki, Situbondo," tutur Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, kamis (30/10/2025).
Respons Cepat dan Bantuan Material
Sebagai bentuk tanggap darurat, BPBD Jatim langsung mengirimkan bantuan material bangunan ke lokasi. Bantuan tersebut berupa 50 sak semen dan 150 lembar galvalum yang diperuntukkan bagi perbaikan atap asrama putri yang ambruk.
Selain itu, tim BPBD juga melakukan asesmen struktural untuk memastikan tidak ada potensi keruntuhan lanjutan di bangunan lainnya.
Gatot menjelaskan bahwa bantuan ini bukan hanya bersifat reaktif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan bangunan pesantren.
“Kami akan mengintegrasikan program mitigasi ke dalam kurikulum pelatihan kebencanaan di lingkungan pesantren, termasuk pelatihan evakuasi dan pengenalan risiko bangunan,” tambahnya.
Tragedi Berulang, Evaluasi Menyeluruh
Tragedi di Situbondo bukanlah yang pertama. Hanya sebulan sebelumnya, bangunan empat lantai di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo juga ambruk dan menewaskan puluhan santri.
Dua insiden ini menunjukkan bahwa banyak bangunan pesantren yang dibangun tanpa perhitungan teknis yang memadai, terutama terkait struktur dan daya tahan terhadap cuaca ekstrem.
BPBD Jatim mencatat bahwa hujan deras dan angin kencang menjadi faktor pemicu utama ambruknya atap bangunan di Situbondo.
Namun, Gatot menekankan bahwa faktor cuaca seharusnya tidak menjadi penyebab utama jika konstruksi bangunan dilakukan sesuai standar.
“Kami akan mendorong audit teknis bangunan pesantren, terutama yang memiliki asrama bertingkat,” ujarnya.
Program SPAB dan Pestana Diperluas
Sebagai langkah strategis, BPBD Jatim akan memperluas implementasi dua program utama: Sekolah/Madrasah Aman Bencana (SPAB) dan Pesantren Tangguh Bencana (Pestana).
Program ini bertujuan untuk membekali pengelola pesantren dan santri dengan pengetahuan dasar mitigasi, simulasi evakuasi, serta pemetaan risiko lokal.
“Pesantren memiliki karakteristik unik, baik dari sisi struktur bangunan maupun pola aktivitas. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” jelas Gatot.
Ia juga menyebutkan bahwa BPBD akan menggandeng Kementerian Agama dan organisasi keagamaan untuk mempercepat sosialisasi dan pelatihan di seluruh wilayah Jawa Timur.
Peran Masyarakat dan Santri
Selain intervensi pemerintah, Gatot menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dan santri dalam menjaga keselamatan lingkungan pesantren.
Ia mengajak seluruh elemen pesantren untuk lebih peduli terhadap kondisi fisik bangunan dan tidak segan melaporkan jika ditemukan potensi bahaya.
“Santri bukan hanya penerima manfaat, tapi juga aktor penting dalam sistem mitigasi. Mereka harus tahu bagaimana bertindak saat terjadi bencana, dan itu harus dilatih secara berkala,” tegasnya.
Baca Juga: BKN Beberkan Kepastian Jadwal Kerja PPPK Paruh Waktu 2025 Tak Serentak, Dimulai Oktober-Desember!
Harapan ke Depan
Tragedi di Situbondo menjadi titik balik bagi BPBD Jatim untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan tangguh.
Gatot berharap agar seluruh pesantren di Jawa Timur dapat menjadi model ketahanan bencana yang tidak hanya mengandalkan bantuan, tetapi juga membangun kapasitas internal.
“Mitigasi bukan sekadar respons, tapi budaya. Kita harus menjadikan keselamatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di pesantren,” tutup Gatot. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid