Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Viral! Air Aqua Bukan dari Pegunungan, Dedi Mulyadi Temukan Sumber Aslinya Ternyata Sumur Bor

Winarsih • Kamis, 23 Oktober 2025 | 21:02 WIB
Viral temuan Dedi Mulyadi tentang air mineral merek Aqua.
Viral temuan Dedi Mulyadi tentang air mineral merek Aqua.

Jawa Pos Radar Lawu – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM berkunjung ke pabrik Aqua di Subang pada Senin (20/10/2025) mengungkap fakta yang mengejutkan.

Air yang selama ini dikenal masyarakat sebagai air pegunungan ternyata bukan berasal dari mata air alami, melainkan dari air bawah tanah yang diambil menggunakan sumur bor dalam.

Awalnya, Dedi mengira bahwa air yang digunakan Aqua bersumber dari mata air pegunungan seperti yang sering digambarkan dalam iklan. Namun, hasil tinjauan langsungnya menunjukkan hal yang berbeda.

“Ini sumber air pengambilannya di mana? Ini sumur apa? Sumur produksi. Ngambil airnya air dari sungai? Airnya dari bawah tanah, Pak. Oh, airnya dari bawah tanah. Bukan air permukaan? Oke, air bawah tanahnya mengambil sumbernya dari? Dari dalam. Di bor, Pak. Ini di bor?” tanya Dedi saat meninjau lokasi, dikutip dari kanal YouTube KDM, Rabu (22/10/2025).

Dedi mengaku sempat percaya bahwa Aqua memanfaatkan air mata air alami. Namun setelah mendengar penjelasan dari pihak pabrik, ia baru memahami bahwa seluruh air berasal dari proses pengeboran dalam.

“Artinya di dalam pikiran saya bahwa ini dikira oleh saya airnya adalah air mata air. Karena namanya air pegunungan, kan? Yang satu air mata air, bukan? Yang 60 juga air bawah tanah. Berarti di bor,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Dedi juga menanyakan dampak pengambilan air bawah tanah terhadap kondisi tanah dan potensi bencana seperti longsor.

“Nggak akan ngefek pada pergeseran tanah? Ini kan airnya di bor. Dikira oleh saya air permukaan. Air permukaan itu air sungai atau air dari mata air. Oh, jadi ini bukan air mata air, ya? Tanah dalam. Berarti kategorinya sumur pompa dalam,” ujarnya.

Pihak pabrik menjelaskan bahwa kedalaman sumur bor yang digunakan mencapai lebih dari 100 meter.

“Berapa kedalamannya? 132. Kalau yang sumur 4, ya? Ini 102. Terus satu lagi? Kalau yang sumur 2, 60 Pak,” tanya Dedi dalam dialog tersebut
Menurut Dedi, pengambilan air bawah tanah di kawasan pegunungan bisa berdampak terhadap stabilitas tanah dan berpotensi menimbulkan bencana lingkungan jika dilakukan secara berlebihan.

“Cuman air gunung nggak ambil bawah tanah apa nggak geser gitu tanahnya? Kalau daerah pedataran geser tanah nggak beresiko. Ini daerah pegunungan. Kalau ininya geser, bisa geser nggak? Kan saya mikir itu, gitu lho,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi lingkungan di sekitar kawasan pabrik yang kini kerap dilanda banjir dan longsor.

Dedi menduga perubahan tersebut disebabkan oleh penebangan hutan dan eksploitasi air bawah tanah secara besar-besaran.

“Salah satu tesis yang hari ini terjadi adalah dulu Kasomalang itu nggak pernah banjir. Hari ini Kasomalang itu banjir. Berarti kan ada problem lingkungan akut yang harus segera dibenahi. Terus yang kedua, longsor sering terjadi,” kata Dedi.

Mantan Bupati Purwakarta itu mendorong agar dilakukan penelitian lebih mendalam terkait dampak pengambilan air bawah tanah terhadap lingkungan di wilayah pegunungan.

“Makanya longsor sering terjadi itu problemnya apa sih? Apa memang hutannya yang ditebang kemudian kering ketika hujan longsor? Atau memang ada aspek-aspek lain yang harus menjadi bahan penelitian? Ini saya lagi mikir,” ucapnya.

Dedi juga menegaskan pentingnya transparansi dari pihak perusahaan terkait jumlah serta titik pengambilan air, dan mengingatkan agar tidak ada manipulasi data.

“Soalnya banyak perusahaan ngakunya satu titik pasangnya lima. Ada yang begitu,” sindirnya.

Kunjungan Dedi ke pabrik Aqua di Subang ini menjadi sorotan publik karena mengungkap fakta bahwa air mineral yang selama ini diklaim berasal dari pegunungan, ternyata menggunakan air bawah tanah hasil pengeboran dalam.

Temuan ini memunculkan kembali perbincangan publik mengenai transparansi sumber air dan dampak lingkungannya bagi daerah sekitar. (win)

Editor : Nur Wachid
#aqua #SUMBER #air #sumur bor #viral #dedi mulyadi