Jawa Pos Radar Lawu - Dunia seni tradisional Indonesia kembali mengenang satu figur penting, Ki Anom Suroto.
Lahir di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 1948, Ki Anom telah menekuni dunia pedalangan sejak usia muda tepatnya 12 tahun belajar dari sang ayah, Ki Sadiyun Harjadarsana.
Awal Perjalanan
Semangat anak muda itu membawanya menimba ilmu di berbagai lembaga seperti Himpunan Budaya Surakarta (HBS), Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), dan Pawiyatan Kraton Surakarta.
Pada usia sekitar 20 tahun, tepatnya 1968, ia berhasil tampil di Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi langkah awal menapaki pentas profesional.
Naik ke Panggung Internasional
Baca Juga: Jangan Cemas Bila Anak Demam, Ini 7 Cara Alami dan Aman Menurunkan Panas Anak Menurut Dokter
Tak hanya dikenal secara nasional, Ki Anom Suroto sukses mengharumkan dunia pedalangan Indonesia ke tingkat global.
Ia menjadi salah satu dalang Indonesia yang berhasil tampil di lima benua, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Jerman Barat, Spanyol, Australia, hingga Rusia.
Dengan gaya pedalangan yang memadukan tradisi Jawa klasik, humor, hingga interpretasi kontemporer, namanya terus melekat dalam dunia kesenian.
Warisan yang Tak Terhapus
Sepanjang kariernya, Ki Anom Suroto dikenal aktif membina generasi muda dalang melalui sanggar dan forum-pedalangan rutin seperti “Rebo Legen”.
Ia juga menerima berbagai penghargaan, di antaranya Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI pada 1995.
Di usianya yang ke-77, ia berpulang pada 23 Oktober 2025 setelah dirawat di RS Dr Oen Kandang Sapi, Solo, karena sakit jantung.
Kabar duka ini meninggalkan kekosongan di ranah seni pedalangan namun juga membuka ruang refleksi atas pentingnya pelestarian budaya tradisi Indonesia.
Kisah hidup Ki Anom Suroto mengajarkan bahwa dari akar sederhana di pesantren dan desa, seseorang dapat menembus batas nasional bahkan global, asalkan terus menekuni ilmu, tradisi, dan semangat berkarya. (ones-mg-PNM/kid)
Editor : Nur Wachid