Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menag Nasaruddin Kagumi Enam Rumah Ibadah Berdampingan di Surabaya: Tak Ada Negara Lain di Kolong Langit yang Seplural Indonesia

AA Arsyadani • Minggu, 19 Oktober 2025 | 17:15 WIB
Menag Nasaruddin kagumi potret toleransi Indonesia dari enam rumah ibadah yang berdiri berdampingan di Surabaya.
Menag Nasaruddin kagumi potret toleransi Indonesia dari enam rumah ibadah yang berdiri berdampingan di Surabaya.

Jawa Pos Radar Lawu - Suasana penuh kehangatan toleransi beragama menyelimuti kawasan Royal Residence, Surabaya, saat Menag Nasaruddin Umar meninjau enam rumah ibadah yang berdiri berdampingan di satu kawasan.

Menteri Agama mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas harmoni yang terjalin di lingkungan tersebut.

“Alhamdulillah, pada malam ini saya menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah. Saya kira belum pernah ada pemandangan seperti ini, enam rumah ibadah berderet berdampingan di tengah sebuah perumahan besar. Inilah Indonesia sejati yang sesungguhnya,” ujarnya.

Baca Juga: Momen Haru Presiden Prabowo Ajak Wisudawan Nyanyikan Lagu 'Kasih Ibu' di UKRI Bandung

Enam rumah ibadah yang berdiri berdampingan tersebut adalah Masjid Muhajirin, Vihara Buddhayana, Kapel Santo Yustinus, Pura Sakti Raden Wijaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Wiyung Royal Residence, dan Kelenteng Ba De Miao.

Keberadaan rumah-rumah ibadah ini menjadi potret nyata keberagaman yang hidup berdampingan secara damai.

Menteri Nasaruddin menilai, pemandangan ini mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: damai, rukun, dan penuh kasih.

Ia berharap model komunitas seperti ini dapat menginspirasi daerah lain untuk memperkuat semangat toleransi.

“Kita berharap di daerah-daerah lain juga terbentuk komunitas seperti ini. Kita sangat yakin, semakin solid suatu warga bangsa, maka semakin besar pula hatinya untuk bangsa ini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kedamaian dan kerukunan merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya kesejahteraan bangsa.

Pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan berarti tanpa rasa aman dan keharmonisan di tengah masyarakat.

“Tidak ada artinya pertumbuhan ekonomi sehebat apa pun jika kita tidak rukun. Tidak ada artinya kekayaan negara sebesar apa pun jika kita tidak hidup dalam damai,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa rumah ibadah sejatinya menjadi tempat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhkan manusia dari tindakan negatif.

“Rumah ibadah mengajak umatnya untuk semakin dekat dengan Tuhan. Semakin dekat hamba kepada Tuhannya, semakin jauh ia dari kriminalitas. Kehadiran rumah ibadah adalah pertanda tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memupuk rasa cinta kasih,” tambahnya.

Nasaruddin juga menjelaskan tentang teladan Muhammad dalam menghargai pemeluk agama lain.

Nabi pernah mempersilakan tamu nonmuslim untuk beribadah di masjid karena tidak ada tempat ibadah lain kala itu.

Bahkan Rasulullah juga pernah memerintahkan agar umat nonmuslim yang rumah ibadahnya terbengkalai dibantu melalui dana hibah.

“Inilah Rasulullah, sosok yang dicintai oleh semua umat beragama,” katanya.

Menag mengajak seluruh tokoh agama dan masyarakat untuk terus menjaga keberagaman Indonesia.

“Indonesia adalah lukisan Tuhan, dengan warna-warni perbedaan yang membentuk harmoni. Jika kerukunan ini terus terjaga, Indonesia akan menjadi contoh bagi dunia sebagai negara paling rukun dan toleran,” pesannya.

“Tidak ada negara lain di kolong langit ini yang seplural Indonesia, dan juga tidak ada yang menawarkan kerukunan seindah Indonesia,” pungkasnya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Menag Nasaruddin Umar #toleransi beragama #royal residence #Pluralisme Agama