Jawa Pos Radar Lawu — Nama KH. M. Anwar Manshur, pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, belakangan ramai diperbincangkan publik setelah tayangan program Xpose Uncensored Trans7 menampilkan narasi yang dinilai melecehkan kehidupan pesantren.
Tayangan berjudul “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” itu menuai kecaman luas karena dianggap menyesatkan dan menodai martabat ulama.
Namun di balik kontroversi tersebut, sosok KH. M. Anwar Manshur sejatinya dikenal sebagai ulama kharismatik yang telah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan pengajaran agama Islam.
Latar Belakang dan Pendidikan
KH. M. Anwar Manshur lahir pada 1 Maret 1938, dari pasangan KH. Manshur Jombang dan Nyai Salamah, putri ketiga KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren dan sudah terbiasa dengan atmosfer keilmuan Islam yang kental.
Beliau memulai pendidikannya di Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang, Diwek, Jombang, yang didirikan oleh ayahnya sendiri.
Setelah itu, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, tempat banyak ulama besar menimba ilmu, sebelum akhirnya menetap di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, untuk memperdalam kitab kuning dan fiqih.
Kehidupan Keluarga
Baca Juga: Download Pengumuman PPG Calon Guru Tahun 2025, Ini Link Pendaftaran dan Aturan Lengkapnya
Dalam perjalanan hidupnya, KH. Anwar Manshur menikah dengan Nyai Umi Kulsum, putri dari KH. Mahrus Aly, ulama besar Lirboyo.
Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai delapan anak, terdiri dari tiga putra dan lima putri. Setelah sang istri wafat, beliau menikah kembali dengan Nyai Husnah binti Ahyat.
Dedikasi dan Keteladanan
Hingga usia senjanya, KH. Anwar Manshur dikenal tak pernah lelah mengajar.
Setiap pagi, beliau sudah mengisi pengajian sejak pukul 07.00 hingga menjelang Dzuhur, tanpa terasa waktu berlalu karena kecintaannya terhadap ilmu.
Beliau juga kerap menasihati para gus dan ning Lirboyo agar tidak bergantung pada nasab keturunan, melainkan memperkuat diri dengan ilmu. “Ngaji dan terus ngaji,” begitu pesan yang selalu beliau tekankan.
Hasilnya pun terlihat, hingga kini, para dzurriyah Lirboyo dikenal berakhlak mulia dan menjaga marwah pesantren di tengah gempuran zaman.
Disorot Media dan Klarifikasi Trans7
Kontroversi muncul saat Trans7 menayangkan program Xpose Uncensored yang menampilkan aktivitas di lingkungan pesantren Lirboyo dengan narasi provokatif.
Tayangan itu dianggap memuat framing menyesatkan dan ujaran kebencian terhadap ulama dan santri.
Gelombang protes pun datang dari berbagai kalangan, termasuk Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL), yang menilai tayangan tersebut telah melanggar etika jurnalistik.
Desakan agar Trans7 meminta maaf pun menggema di media sosial melalui tagar #BoikotTrans7.
Akhirnya, pada 13 Oktober 2025, pihak Trans7 secara terbuka mengunggah permintaan maaf resmi melalui akun Instagram @officialtrans7.
Dalam pernyataannya, mereka mengakui adanya keteledoran dan berjanji untuk tidak lagi menayangkan konten serupa, serta berkomitmen menghadirkan tayangan edukatif yang mengangkat nilai positif pesantren.
Sosok KH. M. Anwar Manshur pun kembali menjadi teladan, bukan karena kontroversinya, melainkan karena ketenangannya menghadapi fitnah dengan ilmu, akhlak, dan keteguhan hati seorang kiai sejati. (*)
Editor : Riana M.