Jawa Pos Radar Lawu - Tagar #BoikotTrans7 ramai diperbincangkan di media sosial usai penayangan salah satu segmen acara televisi yang menampilkan santri dan kiai dengan cara yang dinilai tidak pantas.
Tayangan tersebut menuai kritik luas dari publik, terutama kalangan pesantren dan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam video yang viral di platform X (Twitter) dan TikTok, sejumlah warganet menilai Trans7 menayangkan konten yang menyudutkan citra santri dan kiai, menggambarkan kehidupan pesantren dengan narasi negatif.
Hal ini memicu gelombang protes online yang akhirnya membuat tagar #BoikotTrans7 menempati jajaran trending topic nasional pada Selasa (7/10).
Kronologi Kejadian
Isu ini bermula dari potongan video acara “Mata Najwa” versi parodi yang diunggah ke media sosial.
Dalam cuplikan tersebut, ada adegan yang dianggap menyinggung para kiai dan santri karena menampilkan dialog dan situasi tidak sesuai dengan nilai kehidupan pesantren.
Konten itu kemudian menyebar luas dan mengundang reaksi keras dari masyarakat pesantren yang menilai tayangan itu telah menistakan simbol keagamaan dan lembaga pendidikan Islam.
Beberapa akun besar turut menyuarakan protes, meminta Trans7 menarik tayangan dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Tak sedikit pula tokoh publik yang menilai kasus ini bisa menjadi pelajaran penting bagi dunia penyiaran agar lebih sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan.
Tanggapan Pihak Terkait
Menanggapi hal tersebut, pihak Trans7 disebut telah melakukan evaluasi internal dan akan meninjau ulang proses penyuntingan serta pengawasan konten.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang dirilis secara publik.
Sementara itu, sejumlah organisasi keagamaan meminta masyarakat untuk tetap menahan diri dan menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Respons Publik
Di sisi lain, sebagian warganet menilai bahwa kasus ini bukan sekadar soal tayangan, tetapi juga soal penghormatan terhadap lembaga pendidikan Islam yang selama ini berperan penting dalam pembangunan moral bangsa.
Gelombang kritik ini menunjukkan kuatnya solidaritas masyarakat pesantren dalam menjaga marwah dan nilai tradisi keagamaan dari penyalahgunaan citra di media massa. (Ones-mg-PNM/kid)
Editor : Nur Wachid