Jawa Pos Radar Lawu - Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar dan tertua di Indonesia.
Didirikan lebih dari seabad lalu oleh KH Abdul Karim, pesantren ini tetap konsisten menjaga tradisi pendidikan Islam klasik sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Lirboyo kini menjadi rumah bagi puluhan ribu santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Sistem pendidikannya yang berlapis antara metode salaf dan sistem kelas modern menjadikan Lirboyo sebagai model pesantren yang dinamis dan relevan hingga hari ini.
Sistem Pendidikannya
Lirboyo mempertahankan dua sistem utama dalam proses pendidikannya: metode tradisional salaf dan pendidikan formal berbasis kelas.
1. Metode Tradisional: Sorogan dan Bandongan
Metode salaf tetap menjadi napas utama kegiatan belajar.
Melalui sorogan, santri membaca kitab kuning langsung di hadapan guru untuk dikoreksi dan dipahami maknanya.
Sementara bandongan dilakukan secara berjamaah, di mana guru membacakan dan menjelaskan isi kitab kepada banyak santri sekaligus.
Kedua metode ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kesabaran, serta penghormatan terhadap ilmu dan guru nilai inti yang dijaga ketat di Lirboyo.
2. Sistem Kelas Formal: Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM)
Selain metode tradisional, Lirboyo juga mengelola sistem
kelas melalui Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM).
Sistem ini memiliki jenjang pendidikan yang terstruktur mulai dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah.
Dengan sistem tersebut, santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga pengetahuan umum, manajemen waktu, dan kemampuan berpikir kritis.
Kurikulum yang digunakan diakui setara dengan pendidikan formal nasional, menjadikan santri Lirboyo siap menghadapi tantangan dunia modern tanpa kehilangan akar tradisinya.
Jumlah Santri dan Struktur Pengurus
Jumlah santri di Lirboyo mencapai lebih dari 50 ribu orang, tersebar di pesantren induk dan berbagai cabang.
Hanya di kompleks induk saja terdapat lebih dari 16 ribu santri dengan lebih dari seribu pengurus yang mengelola aktivitas harian.
Dengan jumlah sebesar itu, manajemen pesantren berjalan melalui sistem kepengurusan yang disiplin, mencakup bidang pendidikan, kebersihan, administrasi, hingga pelayanan kesehatan santri. Semua dilakukan secara gotong royong dengan semangat kemandirian yang tinggi.
Nilai-Nilai Kehidupan Santri Lirboyo
Selain belajar kitab kuning, para santri dibiasakan hidup dengan nilai disiplin, tawadhu, dan kemandirian.
Mereka mengikuti jadwal padat mulai dari subuh hingga malam hari diisi dengan belajar, beribadah, dan aktivitas sosial.
Pesantren juga mengajarkan pentingnya musyawarah dan bahtsul masail, forum diskusi untuk membahas persoalan keagamaan dan sosial secara kritis.
Dari sinilah lahir banyak ulama dan tokoh yang berperan besar dalam masyarakat Indonesia.
Meski dikenal sebagai pesantren salaf, Lirboyo tetap terbuka terhadap perubahan. Penerapan sistem kelas, administrasi digital, serta pembinaan karakter berbasis manajemen modern menjadi bukti bahwa pesantren ini mampu beradaptasi tanpa menghapus identitasnya.
Keberhasilan Lirboyo menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi menjadikannya salah satu pesantren paling disegani di Indonesia, baik secara intelektual maupun spiritual.
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan peradaban.
Dengan puluhan ribu santri dan sistem pendidikan yang terus berkembang, Lirboyo membuktikan bahwa tradisi Islam klasik dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman.
Pesantren ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan berbasis nilai dan disiplin tetap relevan untuk mencetak generasi cerdas, berakhlak, dan tangguh.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun