Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pesantren Lirboyo, Pusat Lahirnya Ulama dan Tokoh Hebat yang Mewarnai Indonesia

Nur Wachid • Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:59 WIB
para tokoh di Indonesia yang memiliki hubungan dengan pondok Lirboyo
para tokoh di Indonesia yang memiliki hubungan dengan pondok Lirboyo

Jawa Pos Radar Lawu – Dari bilik-bilik sederhana di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, telah lahir ribuan tokoh besar yang menorehkan kiprah di berbagai bidang — mulai dari keulamaan, pendidikan, dakwah, hingga pemerintahan. Sejak didirikan oleh KH. Abdul Karim pada tahun 1910, pesantren ini dikenal sebagai salah satu lembaga Islam tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.

Hingga kini, Lirboyo tetap menjadi mercusuar keilmuan yang tak pernah padam, melahirkan generasi ulama dan cendekia yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat.

Dari Lirboyo untuk Nusantara

Tradisi belajar di Lirboyo menekankan dua hal utama: tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama) dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Santri diharuskan menjaga adab terhadap guru, disiplin dalam belajar, dan istiqamah dalam ibadah. Dari prinsip inilah lahir tokoh-tokoh luar biasa yang mengharumkan nama pesantren di kancah nasional.

Salah satunya adalah KH. Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum PBNU, yang pernah menimba ilmu di Lirboyo sebelum melanjutkan studinya ke Mekkah. Beliau dikenal luas sebagai ulama moderat yang selalu menyerukan toleransi dan persatuan bangsa. Dalam beberapa kesempatan, KH. Said Aqil menegaskan bahwa nilai keikhlasan dan adab yang ia peroleh di Lirboyo menjadi fondasi dalam kiprahnya di dunia keulamaan dan kebangsaan.

Generasi Muda Pesantren yang Menyala

Selain tokoh senior, Lirboyo juga melahirkan ulama muda seperti Ning Imaz Fatimatuz Zahra, seorang ustazah yang aktif berdakwah di media sosial. Putri pengasuh Lirboyo ini menjadi simbol peran perempuan pesantren yang cerdas, santun, dan berani tampil di ruang publik tanpa meninggalkan nilai-nilai kesopanan dan tradisi salaf.

Sosok lain yang kini banyak diperbincangkan sebagai representasi santri Lirboyo masa kini adalah KH. Reza Ahmad Zahid atau akrab disapa Gus Reza. Beliau merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang dikenal karena dakwahnya yang sejuk, argumentatif, dan mampu menjembatani nilai-nilai klasik pesantren dengan isu-isu modern.

Gus Reza sering diundang dalam berbagai forum nasional dan internasional untuk membicarakan peran santri dalam dunia digital, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Gaya dakwahnya yang lugas namun santun membuatnya disukai oleh kalangan muda. Ia juga aktif mendorong santri agar mampu berdiri di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan adab dan nilai keilmuan.

Kemudian ada KH. Chamzawi, Rais Syuriah PCNU Kota Malang dan dosen di Universitas Negeri Malang. Beliau dikenal sebagai sosok “low profile” yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah, membuktikan bahwa alumni pesantren tak hanya berdakwah di mimbar, tapi juga berperan di ruang akademik dan sosial.

Kiprah di Dunia Kepemimpinan dan Politik

Dari ranah politik, nama Muhaimin Iskandar (Gus Imin) tak bisa dilepaskan. Sebagai tokoh politik nasional yang memiliki akar kuat di dunia pesantren, ia sering menegaskan bahwa nilai-nilai santri seperti kejujuran, adab, dan kerja keras adalah dasar kepemimpinan yang sejati.

Selain Gus Imin, beberapa tokoh Nahdlatul Ulama yang juga memiliki keterikatan dengan Lirboyo turut menorehkan kiprah penting. Di antaranya KH. Miftachul Akhyar, ulama senior yang pernah menjabat Rais Aam PBNU; KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Ketua Umum PBNU yang juga dikenal sebagai diplomat Islam moderat; serta KH. M. Sahal Mahfudh, mantan Rais Aam PBNU yang dikenal sebagai ulama penyatu bangsa.

Mereka semua memiliki satu benang merah yang sama: menempatkan keilmuan dan akhlak di atas segalanya. Lirboyo telah menanamkan nilai dasar bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya pandai bicara, tapi juga tulus berjuang untuk kemaslahatan umat.

Tak kalah penting, sosok KH. Maimun Zubair (Mbah Moen) juga tercatat pernah menimba ilmu di Lirboyo sebelum mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar di Rembang. Dari beliau lahirlah ulama besar seperti Gus Baha dan Gus Najih, yang kini menjadi panutan generasi muda dalam tafsir, dakwah, dan keilmuan Al-Qur’an.

Menjaga Tradisi di Era Modern

Kini, Pondok Pesantren Lirboyo terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai salafiyahnya. Pengajian kitab kuning tetap menjadi ruh utama, sementara pendidikan formal dan dakwah digital menjadi sarana memperluas dakwah.

Ribuan santri dari berbagai daerah setiap tahun datang untuk menimba ilmu, berharap mendapat keberkahan dari para kiai dan tradisi keilmuan yang berusia lebih dari satu abad ini.

Sebuah Tempat yang Melahirkan Pemimpin Bangsa

Dari ulama kharismatik hingga tokoh politik nasional, dari ustazah muda hingga akademisi, Lirboyo membuktikan diri sebagai tempat lahirnya generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak.

Bagi masyarakat Indonesia, nama Lirboyo bukan hanya simbol pesantren, tapi juga simbol lahirnya peradaban Islam Nusantara — lembut dalam berdakwah, tegas dalam prinsip, dan penuh cinta pada negeri. (hamid-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#ulama #santri Lirboyo #Tokoh #Lirboyo #Pondok Pesantren Liboryo