Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

KH. Maimun Zubair, Ulama Besar yang Pernah Mondok di Lirboyo dan Melahirkan Ulama-Ulama Penerus Bangsa

Nur Wachid • Selasa, 14 Oktober 2025 | 23:57 WIB
sosok ulama
sosok ulama

Jawa Pos Radar Lawu – Sosok KH. Maimun Zubair atau akrab disapa Mbah Moen dikenal luas sebagai ulama kharismatik yang menjadi panutan umat Islam di Indonesia.

Beliau adalah ulama yang menggabungkan kedalaman ilmu, keteduhan akhlak, serta kecintaan yang besar terhadap Tanah Air.

Tak banyak yang tahu, bahwa dalam perjalanan hidupnya, Mbah Moen pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Nusantara.

Jejak Keilmuan dari Lirboyo

Menurut catatan biografi yang dihimpun dari Lirboyo.net, KH. Maimun Zubair muda pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah asuhan para kiai besar seperti KH. Abdul Karim dan KH. Marzuqi Dahlan.

Selama mondok di sana, beliau dikenal tekun, rendah hati, dan sangat menghormati para guru.

Bahkan dalam satu kisah yang sering dikutip oleh para santri, Mbah Moen dikisahkan pernah mengalami perjumpaan spiritual dengan Nabi Khidir saat menimba ilmu di Lirboyo — sebuah peristiwa yang semakin meneguhkan semangatnya dalam berkhidmat di jalan ilmu.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Lirboyo, Mbah Moen melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Tanah Suci Mekkah sebelum akhirnya mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang di Rembang, Jawa Tengah.

Dari sanalah beliau menebarkan cahaya keilmuan yang menyinari berbagai pelosok negeri.

Melahirkan Ulama Besar dan Cendekia Islam

Dari tangan dingin Mbah Moen, lahir banyak ulama besar dan tokoh bangsa.

Beberapa di antaranya kini dikenal luas, seperti KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), ulama muda dengan penguasaan tafsir mendalam dan gaya dakwah santun; serta KH. Najih Maimun, putra beliau yang kini meneruskan estafet kepemimpinan di Pondok Pesantren Al-Anwar.

Selain dua nama tersebut, banyak pula santri Mbah Moen yang kini menjadi pengasuh pesantren di berbagai daerah.

Mereka membawa semangat keilmuan dan nasionalisme ala Mbah Moen — lembut dalam dakwah, teguh dalam prinsip, dan cinta pada persatuan umat.

Jembatan Spiritual antara Sarang dan Lirboyo

Kedekatan Mbah Moen dengan Pondok Pesantren Lirboyo tak hanya sebatas masa mondok.

Dalam beberapa kunjungan silaturahmi, beliau sering menyampaikan bahwa Lirboyo adalah tempat yang penuh berkah dan memiliki peran besar dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Bagi para santri Lirboyo, sosok Mbah Moen adalah teladan ulama yang berhasil menjaga keseimbangan antara keilmuan pesantren dan keterlibatan aktif dalam kehidupan kebangsaan.

Beliau juga dikenal sangat menghormati para kiai Lirboyo dan sering menasihati agar para santri Lirboyo tetap istiqamah menjaga adab serta warisan keilmuan salaf.

Warisan Keilmuan yang Tak Pernah Padam

KH. Maimun Zubair wafat pada 6 Agustus 2019 di Mekkah al-Mukarramah saat menunaikan ibadah haji. Wafatnya beliau membawa duka mendalam bagi seluruh umat Islam Indonesia. Namun, pesan dan keteladanan beliau tetap hidup dalam diri para murid dan generasi penerusnya.

Pesan beliau yang paling dikenal adalah, “Santri sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dengan adab, bukan hanya dengan lisan.”

Kini, pondok-pondok besar seperti Lirboyo dan Al-Anwar Sarang menjadi dua simbol keberlanjutan nilai-nilai keilmuan Mbah Moen — ilmu yang menumbuhkan kebijaksanaan, adab, serta cinta tanah air. (hamid-mg-uinpo/kid)

Editor : Nur Wachid
#Pondok Pesantren Lirboyo Kediri #santri Lirboyo #kh maimoen zubair #Lirboyo