Jawa Pos Radar Lawu - Ancaman bom yang sempat menghebohkan masyarakat di sebuah sekolah internasional di Jakarta akhirnya dipastikan tidak benar.
Menteri Sekretaris Prasetyo Hadi mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang bahaya penyebaran kabar bohong atau hoaks, terutama jika menyangkut isu keamanan publik.
“Inilah yang memang menjadi kesadaran bagi kita semua ya bahwa informasi-informasi yang muncul itu seringkali ternyata setelah dilakukan pengecekan itu sesuatu yang tidak benar atau istilahnya sekarang itu banyak sekali hoaks,” ujar Prasetyo dalam rekaman suara yang diterima, Sabtu (11/10).
Prasetyo juga menekankan agar masyarakat tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum dikonfirmasi kebenarannya.
Terlebih, jika menyangkut isu keamanan yang sensitif seperti ancaman bom di tempat pendidikan.
“Apalagi, mohon maaf kalau sudah bicara misalnya itu menyangkut gangguan keamanan, apalagi di situ bom, apalagi lokasinya tempat pendidikan, itu kan sangat-sangat sensitif,” imbuhnya.
Pemerintah, lanjut Prasetyo, telah berkoordinasi dengan berbagai lembaga keamanan, termasuk BIN, BNPT, dan Polri untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
“Pasti, dan sudah. Tapi kan tidak perlu kita sampaikan. Makanya berkali-kali Bapak Presiden kan selalu mereka kan kepada kita, kita harus selalu waspada menerima informasi itu, harus selalu cek kembali. Semangat itu yang Bapak Presiden ingin kita bangun sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan kembali pesan Presiden agar masyarakat tetap fokus pada hal-hal produktif dan tidak terjebak isu buatan pihak tidak bertanggung jawab.
“Ada pekerjaan rumah yang jauh lebih penting daripada sekadar kita, mohon maaf, orang-orang yang tidak bertanggung jawab melempar isu atau memberikan informasi yang meresahkan seperti itu,” tegasnya.
Sebelumnya, North Jakarta Intercultural School (NJIS) di Kelapa Gading menerima pesan ancaman bom dari nomor asing berkode negara +234 (Nigeria) pada Selasa (7/10) pukul 05.09 WIB.
Pelaku mengklaim telah menanam bom di lingkungan sekolah dan meminta tebusan sebesar 30.000 dolar AS dalam bentuk Bitcoin.
“Pesan untuk semua, kami punya bom di sekolahmu. Bomnya akan meledak dalam 45 menit. Jika kamu tidak setuju, bayar 30.000 dolar Amerika ke alamat Bitcoin kami,” demikian isi ancaman tersebut.
Polsek Kelapa Gading bersama tim Penjinak Bom Detasemen Gegana Polda Metro Jaya langsung bergerak cepat pada Rabu (8/10) pagi.
Sebanyak 21 personel Gegana menyisir seluruh area sekolah, mulai dari ruang kelas, laboratorium, hingga area bermain anak.
“Penyisiran dilakukan untuk memastikan keamanan lingkungan sekolah. Tidak ditemukan benda mencurigakan atau bahan peledak,” ungkap Kapolsek Kelapa Gading Kompol Seto Handoko. (fin)
Editor : AA Arsyadani