Jawa Pos Radar Lawu — Sebuah tragedi besar terjadi setelah Topan Ragasa melanda wilayah timur Taiwan, khususnya Kabupaten Hualien.
Curah hujan yang ekstrem selama berhari-hari membuat lereng gunung melunak dan menyebabkan terbentuknya bendungan alami.
Saat bendungan tersebut akhirnya jebol, air deras meluncur ke kota Guangfu, menyapu banyak rumah dan menyebabkan korban jiwa serta warga hilang.
Pihak berwenang setempat melaporkan bahwa beberapa warga sudah dikonfirmasi tewas, sementara puluhan lainnya masih belum ditemukan.
Operasi penyelamatan darurat berlangsung penuh tekanan, dengan tim bantuan dan SAR dari seluruh pulau dikerahkan untuk mengevakuasi warga dari zona bencana.
Kerusakan sangat masif: bangunan yang berada dekat dengan sungai atau bantaran lereng terlacak kehancurannya; beberapa jalan menjadi tidak bisa dilewati karena tanah longsor atau terendam lumpur bercampur air deras.
Sistem komunikasi dan akses menuju wilayah terdampak menjadi terputus, karena banyak jembatan yang hancur dan banjir merusak infrastruktur dasar seperti listrik dan air.
Selain kondisi alam yang semakin memburuk, masyarakat harus menghadapi kondisi tanah yang labil, hujan yang terus mengguyur, dan risiko longsor sejak beberapa jam sebelumnya.
Warga di desa-desa kecil di lereng gunung menjadi yang paling rentan, karena rumahnya berada di titik rendah atau di bawah area bendungan alami tersebut.
Pemerintah setempat mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga di daerah rawan, di mana risiko reruntuhan alam (landslide) dan banjir bandang sangat tinggi.
Sebagian sekolah dan kantor ditutup sementara, dan bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan tenda darurat mulai didistribusikan ke pos-pos penyelamatan sementara.
Meski topan Ragasa dianggap sebagai salah satu badai terbesar tahun ini yang melintasi wilayah Taiwan, kerusakan akibat runtuhnya bendungan alami jadi kejadian luar biasa.
Banyak yang menyoroti bahwa pemantauan dan sistem peringatan dini terhadap bendungan alami atau kumulatif air di sungai harus diperketat.
Ahli lingkungan menyebut bahwa perubahan iklim dan curah hujan ekstrem bisa mempercepat terbentuknya bendungan alami setelah terjadi longsor atau penyumbatan sungai kecil. (Ones-mg-PNM/kid)
Editor : Nur Wachid