Jawa Pos Radar Lawu - Joko Widodo atau Jokowi resmi ditunjuk sebagai penasihat Bloomberg New Economy, sebuah forum bergengsi yang mempertemukan pemimpin dunia, ekonom, dan pelaku bisnis global.
Masuknya Jokowi ke dalam Dewan Penasihat Bloomberg New Economy memicu perhatian publik karena menempatkan Indonesia dalam percaturan ekonomi internasional.
Banyak pihak kini menyoroti apa tugas Jokowi sebagai penasihat Bloomberg New Economy dan kontribusi yang bisa ia bawa dari perspektif negara berkembang.
Pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana dampaknya bagi Indonesia, baik dalam menarik investasi maupun memperkuat posisi diplomasi ekonomi di tingkat global.
Jokowi Masuk Dewan Penasihat Global
Mantan Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi resmi ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg New Economy.
Pengumuman ini menjadi sorotan internasional karena menempatkan Indonesia dalam jajaran tokoh yang ikut memberi arah pada isu-isu besar dunia.
Dewan penasihat ini baru dibentuk pada April 2025, dengan tujuan menghadirkan pandangan strategis dari para pemimpin negara, ekonom, hingga inovator dunia.
Bersanding dengan Tokoh Dunia
Baca Juga: Pulau Bunaken Manado Surga Wisata Laut dengan Terumbu Karang Spektakuler dan Spot Diving Kelas Dunia
Dalam forum ini, Jokowi akan duduk bersama sekitar 22 tokoh berpengaruh lainnya.
Beberapa di antaranya adalah Mario Draghi, mantan Perdana Menteri Italia sekaligus eks Presiden Bank Sentral Eropa, Gita Gopinath selaku Wakil Direktur Pelaksana IMF, serta Gina Raimondo, mantan Menteri Perdagangan Amerika Serikat yang kini memimpin dewan.
Kehadiran Jokowi di barisan penasihat ini menunjukkan bahwa suara negara berkembang seperti Indonesia semakin diperhitungkan dalam diskusi ekonomi global.
Baca Juga: 7 Tips Mengatur Pola Makan Sehat untuk Kamu yang Super Sibuk
Tugas Jokowi di Bloomberg New Economy
Sebagai penasihat, Jokowi diharapkan menyumbang pemikiran strategis tentang berbagai isu global.
Mulai dari pergeseran ekonomi dunia, kebijakan teknologi, transisi energi, hingga dampak perubahan iklim.
Kehadiran Jokowi juga memberi kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk menyuarakan kepentingannya, agar tidak tenggelam oleh dominasi negara maju.
Selain itu, posisi ini memungkinkan Jokowi menjadi jembatan antara gagasan global dengan realitas lokal Indonesia, sekaligus membuka ruang kolaborasi baru dengan mitra internasional.
Dampak bagi Indonesia
Penunjukan ini berpotensi membawa dampak positif bagi Indonesia.
Reputasi Indonesia di mata dunia bisa meningkat, sekaligus membuka peluang lebih besar untuk investasi, kerja sama teknologi, dan proyek infrastruktur.
Forum ini juga memberi ruang bagi Indonesia untuk lebih lantang menyuarakan isu-isu penting seperti ketahanan pangan, pembangunan berkelanjutan, serta inisiatif iklim.
Namun, tantangan juga menanti. Agar tidak sekadar simbolis, Jokowi perlu menunjukkan kontribusi nyata yang bisa dirasakan, baik di tingkat global maupun dalam negeri.
Ekspektasi publik pun meningkat, terutama terkait kemungkinan hadirnya manfaat langsung bagi Indonesia.
Agenda Mendatang
Forum Bloomberg New Economy berikutnya dijadwalkan berlangsung di Singapura pada November 2025 dengan tema “Thriving in an Age of Extremes.”
Agenda ini diperkirakan menjadi panggung pertama bagi Jokowi untuk berperan sebagai penasihat.
Dengan kehadirannya, Indonesia kini memiliki posisi yang lebih strategis dalam percaturan ekonomi global, sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan Jokowi masih mendapat pengakuan di kancah internasional. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid