Jawa Pos Radar Lawu – Nama George Soros kembali mencuat di tengah situasi sosial-politik Indonesia yang memanas usai rentetan demonstrasi berujung anarkis dan penjarahan.
Kali ini, bukan hanya sebagai tokoh elite global yang disebut di balik agenda liberal dunia, Soros juga dituding sebagai mafia yang turut mengancam masa depan Indonesia melalui kekuatan uang, pengaruh politik, dan jaringan bisnisnya.
Narasi ini muncul dari berbagai akun media sosial pro-pemerintah dan kelompok pendukung Presiden Prabowo Subianto yang menganggap kerusuhan beberapa hari terakhir bukan sekadar protes spontan.
Melainkan bagian dari manuver sistematis yang didalangi kekuatan asing. Nama George Soros pun disebut sebagai dalangnya.
Namun, benarkah George Soros memiliki jejak bisnis dan pengaruh nyata di Indonesia?
Jejak Bisnis George Soros di Indonesia: Dari Aceh hingga Sorong
Meski dikenal sebagai investor global yang lebih aktif di pasar modal dan sektor keuangan, George Soros juga memiliki keterlibatan bisnis di Indonesia melalui jaringan investasi dan organisasi yang berafiliasi dengan Open Society Foundations.
Berdasarkan sejumlah laporan, termasuk yang dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia, Soros diketahui memiliki perusahaan atau afiliasi yang pernah beroperasi di wilayah Aceh dan Sorong.
Meski detail spesifik jenis usahanya tidak dijelaskan secara menyeluruh, keberadaan entitas bisnis tersebut menjadi salah satu dasar spekulasi bahwa Soros memiliki kepentingan di Tanah Air.
Beberapa pengamat menyebut, salah satu pendekatan Soros adalah mendanai program bantuan sosial atau filantropi pasca-konflik di Aceh melalui jalur NGO internasional.
Namun, keberadaan investasi tersebut tetap menjadi bahan perdebatan: apakah murni kemanusiaan atau bagian dari strategi politik-ekonomi jangka panjang?
Soros dan Tuduhan Mahathir: Biang Krisis Ekonomi Asia?
George Soros memang bukan sosok yang asing bagi negara-negara Asia Tenggara. Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia, pernah secara terbuka menuduh Soros sebagai penyebab utama krisis ekonomi Asia 1997.
Menurut Mahathir, aksi spekulasi mata uang oleh Soros membuat ringgit Malaysia, rupiah Indonesia, baht Thailand, dan won Korea Selatan anjlok drastis.
Mahathir bahkan menyebut aksi Soros sebagai bentuk "penjajahan ekonomi modern", menuduhnya sebagai tokoh yang ingin mengguncang stabilitas politik Asia dengan menggoyang perekonomian.
Tudingan itu kemudian memantik sentimen negatif terhadap Soros di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Di mana banyak kelompok konservatif dan nasionalis masih menaruh curiga terhadap segala bentuk campur tangan asing—khususnya dari tokoh Yahudi global seperti Soros.
Pengaruh Politik dan Teori Konspirasi Global
Selain sektor ekonomi, Soros dikenal sebagai figur yang kerap menjadi sasaran teori konspirasi.
Pendiri Open Society Foundations ini mendanai berbagai inisiatif demokrasi, kebebasan pers, dan hak asasi manusia di seluruh dunia.
Hal itu membuatnya populer di kalangan liberal, namun dibenci oleh pemerintahan otoriter dan kelompok konservatif.
Di Indonesia, Soros kerap dikaitkan dengan isu-isu gerakan sipil dan agenda pro-demokrasi.
Namun, seiring dengan meningkatnya tensi politik, terutama setelah penyerangan terhadap rumah pejabat negara seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Nama George Soros kembali diangkat sebagai simbol “musuh bersama” oleh kelompok-kelompok yang menilai situasi ini bagian dari perang asimetris global.
Akun media sosial @prabowosubianto.id, misalnya, menyebut bahwa “George Soros diduga kuat berada di balik skenario chaos untuk menggulingkan pemimpin pro-rakyat.”
Mereka menyerukan TNI turun tangan dan memperketat pengamanan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Belum Ada Bukti Keterlibatan Langsung George Soros
Hingga saat ini, belum ada bukti resmi atau pernyataan dari pemerintah Indonesia yang membenarkan keterlibatan George Soros dalam kerusuhan atau pembiayaan aksi demonstrasi yang berujung anarkis.
Namun, kecurigaan terhadap pengaruh asing terus digaungkan, termasuk oleh Presiden Prabowo sendiri yang menyebut adanya “aktor intelektual” dan “mafia besar” di balik aksi perusakan.
Meski tidak menyebut nama langsung, narasi tersebut kian menguatkan persepsi bahwa kekuatan global seperti Soros menjadi bagian dari masalah.
George Soros adalah tokoh yang kompleks: pengusaha sukses, dermawan kelas dunia, sekaligus figur kontroversial.
Di Indonesia, jejak bisnisnya mungkin tidak sebesar di negara lain, tapi pengaruh narasi tentang dirinya sangat kuat—terutama dalam konteks konflik sosial dan instabilitas politik.
Apakah benar Soros adalah dalang di balik kekacauan yang terjadi?
Ataukah ini hanya bagian dari perang informasi dan framing politik? Hanya waktu dan penyelidikan resmi yang bisa menjawab. (kid)
Editor : Nur Wachid