Jawa Pos Radar Lawu - Malam demo 1 September di sekitar Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas) berubah mencekam saat pengamanan protes di DPRD Jawa Barat berujung serangan gas air mata yang merembet ke area kampus.
Demo Bandung memanas dan aksi aparat tersebut menuai kritik, terutama dari kalangan mahasiswa dan hak asasi.
Upaya Menyadarkan Tapi Berujung Berbahaya
Polda Jabar menyatakan bahwa peluncuran gas air mata tidak ditujukan pada mahasiswa atau area kampus secara sengaja.
Mereka justru menargetkan kelompok anarko yang dinilai memicu kerusuhan di kawasan sekitar mereka berusaha membubarkan massa yang menggunakan gedung kampus sebagai tempat berlindung.
Dekan Unisba, Harits Nu’man, mengamini bahwa kampus kian berfungsi sebagai tempat bagi mahasiswa yang terluka untuk mendapat perawatan tanpa ada indikasi pijakan politik di dalamnya.
Dampak Nyata Korban dan Trauma
Meski niatan aparat tidak terbuka ke mahasiswa, kenyataannya puluhan civitas akademik terpapar gas.
Mahasiswa, relawan medis, hingga satpam mengalami sesak napas, luka, dan trauma. Mereka bukan bagian dari kerusuhan, justru menjadi korban dalam proses pembubaran yang buntu.
Reaksi Mahasiswa dan Organisasi HAM
Peristiwa ini memicu gelombang kritik tajam dari berbagai organisasi.
Mahasiswa menuturkan penggunaan kekuatan dalam bentuk tembakan gas ke area kampus sebagai tindakan berlebihan.
Sementara, lembaga hak asasi menyayangkan bahwa zona pendidikan seharusnya aman dan netral justru menjadi sasaran kekerasan. (Ones-mg-PNM/kid)
Editor : Nur Wachid