Jawa Pos Radar Lawu - Semangat perlawanan bukan berarti selalu ingin berada di barisan depan.
Di universitas ini Universitas Brawijaya segera setelah panggilan aksi 1 September 2025 bergema, para mahasiswa mengambil keputusan mengejutkan: mundur.
Tak Ingin Jadi Boneka
Alih-alih bersorak di kerumunan penuh euforia, perwakilan mahasiswa UB memilih mundur dari gerakan.
Mereka menegaskan tidak ingin suara aspirasi mereka dimanfaatkan atau lebih parah, ditunggangi oleh latar politik atau kekuatan gelap di luar kampus.
Ini adalah pernyataan tegas: “Kami menolak dimanipulasi,” begitu kata mereka.
Adapun situasi di Kota Malang secara umum sejak pagi terlihat lebih lengang dari biasanya.
Hingga pagi ini, situasi di seputaran kawasan Tugu Malang (Balai Kota Malang dan Gedung DPRD Kota Malang) juga terlihat lengang.
Aparat yang bertugas terdiri dari personel TNI dan polisi.
Situaasi Kota Malang masih terbilang cukup lengang karena Dinas Pendidikan Kota dan Gurbenur Jatim mengeluarkan edaran untuk sekolah melakukan pembelaajaran jarak jauh.
Hal ini membuat situasi di Kota Malang menjadi sepi daripaada sebelumnya diwarnai oleh sejumlah pembakaran.
Menjaga Integritas di Tengah Amarah Kolektif
Ketika gelombang emosi massa bisa menciptakan momentum, UB memilih menahan diri. “Tidak semua protes bisa kami ikuti,” ujar salah satu mahasiswa, “Jika suaranya keberpihakan namun diarahkan oleh suara lain, kami mundur.”
Sikap ini bukan soal pasif melainkan soal menjaga kemurnian suara mereka sendiri.
Fokus pada Nilai Kampus
UB dikenal sebagai pusat pemikiran kritis dan akademik.
Maka keputusan ini menjadi pesan kuat: mereka memilih mewariskan dialog intelektual yang didasarkan data, riset, dan rasionalitas daripada solidaritas simbolis di jalanan.
Paham bahwa perubahan sejati juga tumbuh dari ruang diskusi, bukan hanya dari orasi keras. (Ones-mg-PNM/kid)