Jawa Pos Radar Lawu - Jagat media sosial kembali digemparkan oleh viralnya foto ijazah SMP yang diduga milik Ahmad Sahroni.
Dokumen tersebut beredar luas setelah rumah mewah milik politisi asal Tanjung Priok itu dijarah massa.
Dari beberapa barang pribadi yang ikut terbongkar, ijazah ini menjadi sorotan utama lantaran memperlihatkan catatan akademik Sahroni semasa sekolah.
Dalam foto yang beredar, nilai yang tercatat di ijazah rata-rata berada di kisaran angka 6, dengan beberapa nilai tertinggi hanya menyentuh angka 7.
Fakta ini sontak menjadi bahan perbincangan panas, terutama karena muncul setelah pernyataan Sahroni yang sempat menyebut masyarakat sebagai “orang tolol sedunia”.
Bagi warganet, ironi ini terlalu mencolok untuk dilewatkan.
Banyak yang mempertanyakan kelayakan seseorang dengan rekam jejak akademis biasa saja namun begitu percaya diri melabeli rakyat dengan sebutan merendahkan.
Sejumlah komentar pedas pun memenuhi lini masa. Ada yang menyindir, “Nilai 6 saja sudah sombong, apalagi kalau nilainya bagus.
Bisa-bisa rakyat disebut alien.” Ada pula yang menuliskan, “Ijazah ini bukti nyata, rendah nilai belum tentu rendah hati.”
Lebih jauh, muncul juga kritik bahwa komentar Sahroni mencerminkan jarak antara elit politik dan masyarakat.
Publik merasa semakin geram karena temuan ijazah ini dianggap sebagai “plot twist” yang menunjukkan ketidakkonsistenan sikap seorang pejabat publik.
Kejadian ini sekaligus mengingatkan bahwa rekam jejak seseorang baik akademik maupun sikap di hadapan publik bisa menjadi bumerang di era digital.
Di satu sisi, nilai di sekolah memang tidak selalu menentukan kesuksesan di kemudian hari.
Namun di sisi lain, rendahnya nilai semestinya bisa menjadi alasan untuk lebih rendah hati, bukan justru merendahkan orang lain.
Kini, foto ijazah tersebut terus beredar, menjadi bahan guyon sekaligus sindiran di media sosial.
Kasus ini juga menambah panjang daftar kontroversi yang melibatkan nama Ahmad Sahroni, sekaligus mempertegas bahwa di tengah sorotan publik, setiap detail kehidupan pribadi bisa berubah menjadi topik panas nasional. (win)