Jawa Pos Radar Lawu-Emas kuno dari zaman kerajaan bukan hanya bernilai tinggi karena kandungan logam mulianya, tetapi juga karena nilai sejarah, budaya, dan kelangkaannya.
Di masa lalu, emas bukan sekadar simbol kekayaan, tetapi juga lambang kekuasaan dan kebangsawanan.
Artefak emas yang ditemukan dari masa Majapahit, Mataram Kuno, hingga kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya kini menjadi buruan para kolektor dunia.
1. Sejarah Penggunaan Emas Sebagai Alat Tukar
Sejak zaman dahulu, emas telah dianggap sebagai logam mulia yang bernilai tinggi.
Di dunia Barat, koin emas pertama kali dikenalkan oleh Kerajaan Lydia (di wilayah Turki kini) sekitar tahun 600 SM . Praktik ini kemudian menyebar ke Yunani, Romawi, dan kekaisaran dunia lainnya.
Di Nusantara, sejak abad ke‑8 hingga ke‑10 Masehi, masyarakat Jawa sudah mengenal mata uang koin emas, seperti “kupang”, “masa”, dan “tahil” yang digunakan untuk transaksi penting—terutama perdagangan dan pembayaran upeti dalam sistem kerajaan Hindu‑Buddha.
2. Emas Zaman Kerajaan di Nusantara
Kerajaan Jawa: Mataram Kuno & Majapahit
Harta karun Wonoboyo, ditemukan di Klaten, Jawa Tengah, pada tahun 1990, menjadi bukti nyata kemegahan seni dan ekonomi era Kerajaan Mataram Kuno (abad ke‑9 sampai ke‑10 Masehi).
Temuan ini terdiri dari hampir 15 kg emas dan 2 kg perak, lebih dari 1.000 artefak seperti bejana, gelang, mangkuk, serta ribuan koin.
Baca Juga: Viral Rekening Diblokir PPATK, padahal Tabungan untuk Biaya Tugas Akhir Kuliah
Harta ini diyakini milik keluarga kerajaan atau bangsawan tinggi
Menurut catatan sejarah, sejak masa Hindu‑Buddha, benda‑benda perhiasan dan peralatan upacara dari emas menjadi simbol status sosial para bangsawan dan penguasa Jawa.
Bahkan alat makan raja-raya disebut-sebut terbuat seluruhnya dari emas dan dipenah dengan permata.
3. Mengapa Harga Emas Kuno Bisa Sangat Tinggi?
Kelangkaan & Usia
Semakin tua dan jarang ditemukan, semakin tinggi nilainya. Artefak seperti koin Majapahit atau Wonoboyo langka sekali ditemui.
Nilai Sejarah & Budaya
Koin atau perhiasan emas kuno adalah saksi sejarah, bukan hanya logam—membawa cerita tentang peradaban, politik, dan estetika masa lampau.
Kondisi Fisik & Keaslian
Keaslian sertifikat dan kondisi artefak (utuh dan motif jelas) sangat mempengaruhi harga di pasar numismatik modern.
Permintaan Kolektor
Kolektor lokal maupun internasional bersaing dalam lelang, membayar harga premium untuk barang yang bernilai sejarah tinggi.
Contohnya, koin emas “100.000 Rupiah Tahun 1974” memiliki kandungan emas 90% dengan berat ±33 g dan pernah dilelang sampai Rp100 juta–Rp125 juta .
Sementara koin penerbitan era kolonial seperti “Gulden Emas” dapat melejit melebihi US$7.000 jika kondisi sangat baik dan versi langka.
4. Contoh Harga Beberapa Koin Kuno di Indonesia
Koin Emas 100.000 Rupiah (1974): Hingga sekitar Rp125 juta, tergantung kondisi dan sertifikat.
Koin Rp25 Elang (1971): Bisa mencapai Rp100 juta karena sangat langka.
Koin Rp50 Komodo (1971): Harga hingga Rp90 juta untuk kondisi terbaik
Koin Majapahit (contoh: 1 keping, 2 keping, edisi wayang, 5 keping): Nilai antara Rp20 juta sampai Rp100 juta tergantung jenis dan kelengkapan motifnya
Emas zaman kerajaan bukan hanya soal logam mulia; ia membawa nilai budaya, estetika, dan sejarah yang tak ternilai.
Temuan seperti harta Wonoboyo atau koin era Majapahit memberikan bukti konkret bahwa emas bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kekuasaan dan warisan peradaban.
Karena itu, harga koin kuno zaman kerajaan bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah di pasar kolektor.(galuh-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid